2026 Rantai Pasok Diperkuat, Kementerian UMKM Optimalkan Program Holding UMKM

Sepanjang 2025 Kementerian UMKM telah menjalankan Holding UMKM pada sejumlah klaster, di antaranya fesyen, kriya, serta kelautan dan perikanan.
by Desember 19, 2025
1 min read
Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Republik Indonesia saat kegiatan pelepasan Ekspor Produk Perikanan di Jakarta, Jumat (28/3/25). UMKM.GO.ID/YOAN PRAMOGA

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memastikan program Holding UMKM akan dioptimalkan dan diperluas pada 2026 untuk memperkuat kemitraan dan rantai pasok usaha nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengatakan pada 2026 pihaknya akan mengembangkan sedikitnya lima klaster strategis, yakni sepak bola, pariwisata, pertanian, makan bergizi gratis, serta kesehatan dan kecantikan.

“Untuk klaster sepak bola, awal Desember lalu telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian UMKM, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Dalam Negeri. Sepak bola dipilih sebagai proyek percontohan untuk memperkuat ekosistem melalui pemberdayaan UMKM,” ujar Bagus di Jakarta, Jumat (19/12/25).

Bagus menjelaskan, sepanjang 2025 Kementerian UMKM telah menjalankan Holding UMKM pada sejumlah klaster, di antaranya fesyen, kriya, serta kelautan dan perikanan. Dalam skema ini, usaha menengah berperan sebagai operator sekaligus role model yang dapat direplikasi secara masif di berbagai daerah.

“Pada klaster kelautan dan perikanan, program ini melibatkan 600 pemindang ikan. Klaster fesyen melibatkan 550 pengrajin dan reseller, sementara klaster kriya melibatkan 150 pengrajin,” jelasnya.

Melalui Holding UMKM, usaha menengah diharapkan menjadi penghubung bagi usaha mikro dan kecil dalam satu klaster, sehingga tercipta skala ekonomi, kemudahan akses pembiayaan, pendampingan, serta penguatan pemasaran.

“Usaha menengah diharapkan mampu membantu mengatasi berbagai kendala UMK, seperti keterbatasan produksi, pembiayaan, standardisasi mutu, dan integrasi rantai pasok,” katanya.

Selain penguatan klaster, Kementerian UMKM juga akan mengoptimalkan pembiayaan inovatif bagi usaha menengah pada 2026 melalui skema yang terstruktur dan terkurasi. Pada tahun sebelumnya, sebanyak 56 usaha menengah terpilih mengikuti skema pembiayaan hasil kolaborasi dengan bank Himbara, Pegadaian, serta berbagai mitra lainnya.

Tak hanya itu, program RISE to IPO juga akan kembali digelar pada 2026 di Surabaya, Bandung, dan Makassar. Sebelumnya, program ini telah dilaksanakan di Jakarta dan Semarang dengan total 128 perusahaan lolos proses kurasi.

“RISE to IPO menjadi jembatan strategis bagi usaha menengah untuk naik kelas, sekaligus memperkuat ekosistem jutaan usaha mikro dan kecil di Indonesia,” tutupnya. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga