Keistimewaan Puisi Esai dalam Relasi Publik dan Kepemerintahan

Puisi esai menjadi terapi seni bagi setiap individu yang ingin meneriakkan situasi kebatinan mereka terhadap pemerintah.
by Agustus 27, 2026
5 mins read
Keistimewaan Puisi Esai |
Ilustrasi sebuah tulisan (Magnific.com)

Oleh: Muhammad Adib, S.Kom.*

Benturan pemikiran antara rakyat dan penguasa sering kali muncul akibat realisasi kebijakan yang kontroversial. Dialektika tersebut bersumber dari akumulasi kegelisahan masyarakat sekaligus reaksi terhadap kinerja pemerintah yang terkesan elitis lengkap dengan mismanajemen dalam bidang tata kelola. Kritik lewat lisan maupun tulisan lalu muncul sebagai bagian dari cara rakyat berdialektika untuk menyuarakan ekspresi kondisi lahir dan batin mereka.

Salah satu cara meluapkan kritik tersebut yaitu melalui puisi. Namun, jenis karya sastra ini cenderung atau bahkan selalu menggunakan kata-kata yang akrobatik, non-literal dan non-linier sehingga pembacanya sulit untuk memahami maksud dari puisi tersebut. Gaya bahasa yang kias dan bias (ambigu) juga menjadi momok bagi para pembaca awam. Dibutuhkan berbagai pendekatan dan intrepretasi yang kuat agar sang pembacanya sendiri memahami substansi dan esensi puisi agar tidak jatuh ‘tersesat’.

Sementara itu di sisi lain ada tantangan yang harus dihadapi berupa rendahnya tingkat literasi publik di tanah air. Hasil skor Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru tahun 2022 menjadi bukti konkret bagaimana kondisi literasi bangsa. Indonesia menempati posisi ke-12 dari bawah atau bertengger pada posisi ke-70 dari 81 negara dengan jumlah 1.108 poin. Secara peringkat memang merangkak naik dari tahun 2018 lalu, namun secara skor dari aspek membaca menjadi yang terendah sepanjang sejarah. Rincian skor yang diperoleh yaitu Matematika (366), Sains (383), dan Membaca (359).

Selain itu, skor Indeks Pembangunan Literasi Manusia (IPLM) secara nasional yang dirilis oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) per Maret 2026 lalu juga menunjukkan skor 40,6 yang artinya termasuk dalam kategori rendah.

Seorang pegiat dan praktisi kepenulisan Denny JA lalu berupaya menggugah kembali minat masyarakat untuk berpuisi via genre baru sastra hybrid kontemporer. Ya, puisi esai hadir sebagai karya sastra yang langsung bersumber dari fenomena riil atau fakta lapangan plus narasi pribadi yang berasal dari hati nurani. Ia merupakan keindahan rasa dan ekspresi jiwa yang dikombinasikan dengan realisme sosial plus dilengkapi catatan kaki sebagai sumber literatur.

Puisi kontemporer ini menjadi jembatan antara opini, fakta empiris dan bait-bait sastra yang indah. Bahasa sastra yang dipersonifikasi dalam bentuk prinsip 5W + 1H, mirip dengan penulisan aktivitas jurnalisme para ‘kuli tinta’. Melalui saluran puisi esai, menjadi seorang pujangga kini tak lagi harus terpaku dengan komplekstitas, aturan baku dan bahasa-bahasa bersayap yang umumnya dikenal dalam puisi secara umum.

Bencana alam yang menghantam 3 provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat) pada waktu lalu bisa dijadikan sebagai momentum untuk meneriakkan trauma batin kolektif semua pihak. Lewat puisi esai, semua bisa mengekspresikan luka batinnya untuk mengirimkan pesan kepada pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia tanpa terkecuali. Intinya untuk  membentuk sikap empati dan lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability) serta bahu-membahu dalam meringankan beban penderitaan sesama.

Sebenarnya ada banyak alasan mengapa puisi esai menjadi salah satu opsi yang tepat untuk menyuarakan luka sosial. Namun penulis secara pribadi akan menjelaskan dari aspek relasi publik dan kepemerintahan, beberapa diantaranya yaitu:

Pertama, medium kritik satir nan elegan terhadap pemerintah.Tulisan opini atau esai pada umumnya akan langsung menyampaikan kritik dengan bahasa yang frontal baik kepada individu, kelompok atau instansi pemerintahan. Nah, puisi esai menjadi medium baru dalam memberikan kritik namun dengan cara yang lebih soft spoken dan elegan. Kritik satir ini memberikan semacam alarm peringatan kepada pemerintah untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap suatu kebijakan tanpa menyinggung secara terang-terangan. Menambahkan elemen gaya bahasa seperti majas, pernyataan kontradiktif/ironi, dan lainnya dapat memperindah satir tanpa kesan menghujat atau merendahkan siapapun.

Sebagai contoh; Bukan hanya potongan batang pohon, tumpukan potongan mayat yang bergelimpangan di tanah itu juga disebabkan oleh para korporat yang ‘meratakan’ hutan.

Kritik secara terang-terangan itu perlu, namun kritik satir juga tak kalah perlunya dalam mendorong perubahan yang positif. Hal yang wajib digarisbawahi ialah jangan sampai merendahkan martabat individu tersebut sebagai seorang manusia. Lain cerita jika memberikan kritik kepada seseorang dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik. Memang terkadang ada individu atau kelompok yang sulit menerima bahkan mendebat jika dikritik secara langsung, padahal kritik yang disampaikan merupakan kritik yang konstruktif. Oleh karena itu, kritik satir bisa menjadi medium yang tepat.

Kedua, menggaungkan hak-hak individu/kelompok yang sering ‘dianaktirikan’. Tidak sedikit mayoritas rakyat yang merasa sulit meluapkan keresahannya secara langsung terhadap wakil rakyat apalagi pemerintah. Sering kali keluhan dan aduan masyarakat tak digubris, demonstrasi hanyalah angin lalu, hingga akhirnya protes tersebut berubah menjadi masa lalu. Tersisa saluran media sosial untuk meluapkan semua kemarahan. Namun siapa yang mendengar? Hanya sesama netizen yang budiman-lah yang mau saling memahami.

Melalui puisi esai, pengarang dapat bertindak seolah-olah sebagai korban dan merasakan empati kaum proletar yang jarang tersentuh pemerintah.

Para guru honorer sebagai contoh, berpuluh-puluh tahun mengabdi dengan gaji hanya ratusan ribu.  Jangankan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pun sulit untuk diraih. Giliran pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), secepat kilat diangkat menjadi PNS kontrak.

Berdasarkan hasil survei Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) dan Great Edunesia Dompet Dhuafa pada tahun 2024 lalu menyebutkan total 74,3 persen guru honorer masih mendapatkan gaji di bawah Rp2 juta per bulan. Lebih parahnya, sebanyak 20,5 persen diantaranya hanya mengantongi upah di bawah Rp500 ribu/bulan.

Memang ada kenaikan tunjangan Rp500 ribu (menjadi Rp2 juta/bulan) bagi guru honorer atau non-PNS yang telah menyelesaikan sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Namun hal ini masih belum terlalu berdampak akibat masih banyaknya guru honorer di republik ini belum tersertifikasi.

Ketiga, meningkatkan public awareness  tentang pentingnya riset. Perjalanan dalam mencari fakta bukanlah perkara mudah, selalu ada ‘ongkos’ yang wajib dikeluarkan. Ongkos tersebut bukanlah berupa uang saja, melainkan ongkos pikiran, tenaga dan waktu itulah yang utama.

Riset menjadi krusial dalam menyelesaikan sebuah puisi esai. Maka dari itu catatan kaki wajib tercantum dalam setiap narasinya. Puisi esai menekankan pentingnya menemukan api kesadaran tentang fakta peristiwa. Riset bisa diraih dengan dua cara diantaranya melalui riset secara langsung (wawancara langsung, observasi, kuesioner) dan riset secara literatur (studi kepustakaan, jurnal ilmiah terindeks, headline berbagai media arus utama).

Melalui puisi esai akan meningkatkan kesadaran publik (public awareness) bahwa penelitian dan riset menjadi urgensi utama sebagai kerangka penyusun dari karya sastra kombinatif ini. Puisi esai menciptakan kemudahan lewat narasi yang lebih ringan dan mengalir tanpa menggunakan istilah akademis. Hanya memerlukan sedikit pemahaman gaya bahasa (majas) seperti hiperbola, litotes, metafora, personifikasi dan lainnya.

Terakhir, meminimalisasi bahkan mengobati trauma dan luka batin. Kondisi geografis Indonesia yang sejak awal merupakan ‘ring of fire’ harusnya menjadi bekal bagi pemerintah untuk selalu mawas diri. Andai respon pemerintah terhadap bencana kemarin lebih sigap, cepat dan tanggap, mungkin trauma dan luka batin kolektif yang diterima korban tidak separah yang terjadi.

Puisi esai lantas menjadi terapi seni (art therapy) yang mampu meminimalisasi bahkan menyembuhkan trauma batin para korban. Rasa dan fakta yang ditangkap melalui puisi esai akan menjadikan momen luka sosial dapat tereduksi dan mencegah ingatan trauma batin kolektif tersebut kembali terngiang. Minimal, ia akan jadi monumen pengingat dan hikmah untuk setiap individu yang mengalaminya.

Hasil studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Art Therapy Association tahun 2016 lalu mengungkap bahwa menulis, menggambar, bernyanyi, membuat kerajinan tangan, berpuisi, berpidato dan segala aktivitas kreatif lainnya selama 45 menit dapat menurunkan hormon kortisol yang berakibat pada menurunnya tingkat stres secara signifikan. Hal ini selaras dengan Seorang pakar Zen Art dari Korea Selatan Profesor Damwon Kim Chang-Bae juga menyebut bahwa seni menjadi salah satu opsi yang baik untuk meraih ketenangan (mindfulness).

Sebagai kesimpulan, puisi esai menjadi terapi seni bagi setiap individu yang ingin meneriakkan situasi kebatinan mereka terhadap pemerintah. Apa pun itu, silahkan tuangkan lewat tarian-tarian pena Anda, ukir kertas putih dengan bait dan larik-larik yang harum semerbak, tentu tetap berkesesuaian dengan data dan fakta.

Puisi esai jadi alternatif jalan baru yang menjembatani antara keingintahuan dan kesusastraan. Kuncinya satu, pengarang mampu menyeimbangkan nuansa sastra yang indah dengan esai yang informatif dan riil. Andai salah satunya tak seimbang, maka puisi sastra akan kehilangan jiwa pujangganya.

Muhammad Adib, S.Kom. Staf Administrasi Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) Medan dan seorang Guru Ngaji.

Go toTop

Baca Juga