Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.*
Kemarau panjang kembali membawa persoalan lama ke Kalimantan Barat. Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah, sementara asap perlahan menutup langit dan mengganggu kehidupan masyarakat. Bagi warga yang setiap hari harus menghirup udara tercemar, kabut asap bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan masalah kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.
Kondisi semacam ini tidak cukup dijawab dengan imbauan agar masyarakat berhati-hati. Pemerintah perlu bergerak lebih cepat dengan seluruh sumber daya yang tersedia, sementara masyarakat juga harus mengambil bagian untuk mencegah api semakin meluas. Bencana yang berulang seharusnya membuat kita belajar bahwa pencegahan jauh lebih murah daripada membayar kerugian setelah semuanya terlambat.
Air Harus Dikejar dari Langit dan Darat
Pemerintah perlu mengoptimalkan segala kemungkinan untuk mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca. Hujan buatan memang tidak selalu berhasil karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi syarat. Namun dalam situasi darurat, setiap peluang untuk mengurangi asap dan memadamkan titik api patut dimanfaatkan secara serius.
Upaya mendatangkan air tidak seharusnya berhenti di udara. Pemerintah juga perlu memperkuat pemadaman dari darat melalui penyediaan tangki air, pompa, embung, sumur, kanal, serta sarana lain di kawasan yang memiliki risiko kebakaran tinggi. Prinsipnya sederhana: jika langit sedang tidak mampu memberikan cukup air, manusia harus mencari cara agar kebutuhan air tetap tersedia di permukaan tanah.
Operasi udara seperti penyemaian awan dan water bombing memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun biaya tersebut perlu dilihat sebagai investasi untuk mencegah kerugian yang jauh lebih besar. Kebakaran yang dibiarkan meluas akan menimbulkan biaya kesehatan, mengganggu kegiatan ekonomi, menghambat pendidikan, merusak lingkungan, dan mengurangi pendapatan masyarakat.
Cara berpikir seperti ini penting dalam manajemen keuangan publik. Anggaran penanggulangan bencana bukan sekadar uang yang habis untuk keadaan darurat, melainkan sumber daya yang digunakan untuk mengurangi kerugian masyarakat. Pemerintah perlu berani mengeluarkan anggaran secara cepat dan tepat selama pengeluaran tersebut benar-benar diarahkan untuk menyelamatkan manusia dan lingkungan.
Masyarakat Jangan Dibiarkan Menghadapi Asap Sendirian
Kabut asap membuat masyarakat menghadapi beban yang tidak selalu terlihat. Orang mungkin masih bisa bekerja, bersekolah, atau berdagang, tetapi kualitas hidup mereka menurun ketika setiap tarikan napas membawa udara yang tercemar. Ada keluarga yang harus membeli masker, ada pekerja yang kehilangan penghasilan karena aktivitas terganggu, dan ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih cepat.
Karena itu, bantuan pemerintah harus diberikan secara nyata dan mudah dijangkau. Masker, sembako, air bersih, bantuan uang, pelayanan kesehatan, makanan bergizi, serta kebutuhan dasar lainnya dapat menjadi penyangga bagi masyarakat yang terdampak. Bentuk bantuan boleh berbeda-beda, tetapi prinsipnya sama: masyarakat tidak boleh merasa ditinggalkan menghadapi bencana seorang diri.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan informasi mengenai kualitas udara dan kondisi kebakaran dapat diterima masyarakat dengan mudah. Posko pelayanan dan kesehatan harus diperkuat terutama di kawasan yang mengalami paparan asap cukup berat. Dalam keadaan darurat, informasi yang cepat dan jelas sama pentingnya dengan bantuan material.
Kita juga perlu melihat bantuan sebagai bagian dari kebijakan ekonomi. Masyarakat yang kehilangan hari kerja atau mengalami penurunan pendapatan akibat bencana tetap memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Bantuan yang tepat waktu dapat membantu keluarga bertahan sekaligus menjaga agar dampak ekonomi dari bencana tidak semakin panjang.
Api Tidak Boleh Menjadi Tradisi Musiman
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menangani kebakaran, tetapi masyarakat juga memiliki kewajiban untuk tidak memperburuk keadaan. Membakar lahan secara sembarangan dalam kondisi kemarau panjang merupakan tindakan yang sangat berisiko. Api kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar ketika tanah dan vegetasi berada dalam kondisi kering.
Alasan bahwa pembakaran hanya dilakukan di lahan sendiri tidak cukup untuk membenarkan tindakan tersebut. Asap tidak mengenal batas kepemilikan tanah dan dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi pembakaran. Satu tindakan yang dilakukan tanpa perhitungan dapat membuat ribuan orang ikut menanggung akibatnya.
Dari sudut pandang filsafat, persoalan ini berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya. Kebebasan seseorang untuk menggunakan lahannya tidak berarti kebebasan untuk menciptakan kerugian bagi orang lain. Kebebasan selalu memiliki batas ketika tindakan pribadi mulai mengancam hak orang lain untuk memperoleh udara yang bersih dan lingkungan yang aman.
Pemerintah juga harus konsisten dalam melakukan pencegahan dan penegakan hukum. Tidak cukup hanya bergerak setelah api membesar dan asap menyebar ke berbagai wilayah. Pengawasan terhadap titik rawan kebakaran, edukasi masyarakat, kesiapan petugas, serta penindakan terhadap pembakaran yang disengaja harus berjalan bersamaan.
Menjaga Kesehatan di Tengah Langit yang Kelabu
Masyarakat perlu mengambil langkah perlindungan diri selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Kalimantan Barat. Penggunaan masker menjadi penting terutama bagi mereka yang harus beraktivitas di luar rumah. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi apabila tidak benar-benar diperlukan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Orang tua perlu memberikan perhatian lebih kepada anak-anak dan anggota keluarga yang rentan terhadap dampak asap. Jika muncul keluhan kesehatan yang mengkhawatirkan, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis dan tidak menganggap gangguan tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Jangan sampai masyarakat terlalu terbiasa dengan asap sehingga menganggap dampaknya sebagai bagian normal dari kehidupan.
Kita perlu mengubah cara pandang terhadap kabut asap. Udara bersih bukan kemewahan dan bukan pula sesuatu yang boleh dinikmati hanya ketika musim hujan tiba. Udara bersih merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang harus dijaga bersama.
Kalimantan Barat membutuhkan lebih dari sekadar hujan. Kita membutuhkan pemerintah yang cepat mengambil keputusan, anggaran yang digunakan secara tepat, bantuan yang benar-benar sampai kepada masyarakat, serta warga yang memiliki kesadaran untuk tidak menambah persoalan dengan membakar sembarangan.
Hujan dari langit memang sangat kita nantikan. Namun hujan tidak boleh menjadi satu-satunya harapan. Selama pemerintah bergerak, masyarakat saling membantu, dan semua pihak mau bertanggung jawab terhadap lingkungan, kabut asap tidak harus menjadi cerita yang selalu berulang setiap musim kemarau.
Kalbar berhak mendapatkan langit yang kembali biru dan udara yang kembali bersih. Untuk mewujudkannya, kita tidak bisa hanya menunggu alam berubah. Kita juga harus mengubah cara kita memperlakukan alam.
Vinsensius, S.Fil., M.M. Penulis dan pemerhati bidang filsafat, manajemen, dan persoalan sosial kemasyarakatan.
