Kabut asap yang mengganggu penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, turut memengaruhi penghasilan pekerja yang menggantungkan pendapatan pada aktivitas penumpang. Sopir taksi dan porter menjadi kelompok yang ikut merasakan dampak pembatalan penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan dampak tersebut mulai dirasakan sejumlah mitra kerja bandara yang memperoleh penghasilan dari aktivitas penerbangan.
“Beberapa yang sudah terdampak memang sudah terasa dampaknya, mitra kami driver, sopir taksi, kemudian porter yang memang penghasilannya dari bandara udara,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (23/10/2026).
Made menjelaskan, gangguan akibat kabut asap mulai dirasakan sejak Juli 2026. Kondisinya semakin mengganggu penerbangan sejak 23 September 2026, ketika jarak pandang di kawasan bandara terus mengalami penurunan.
Jarak pandang bahkan sempat hanya mencapai 150 meter. Pada Kamis (22/10/2026), kondisinya masih berubah-ubah, dengan jarak pandang terakhir yang tercatat sekitar 800 meter.
Terbatasnya jarak pandang membuat pelaksanaan penerbangan harus menyesuaikan kondisi di lapangan demi menjaga keselamatan. Selain faktor cuaca dan jarak pandang, maskapai juga mempertimbangkan tingkat keterisian penumpang serta biaya operasional.
“Load factor, tingkat keterisian juga menjadi pertimbangan yang paling mendasar, karena sekarang fuel juga kan lagi meningkat dari sebelumnya,” jelasnya.
Meski menghadapi gangguan akibat kabut asap, Made memastikan Bandara Tjilik Riwut tetap beroperasi. Pengelola juga telah melakukan penyesuaian jam operasional untuk menyesuaikan kondisi yang terjadi.
“Belum ada keinginan untuk melakukan penutupan terhadap bandara udara. Bandara udara tetap beroperasi dengan baik dan kami sudah melakukan penyesuaian jam operasional,” pungkasnya.
Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan, layanan pengembalian dana tiket maupun penjadwalan ulang tetap tersedia sesuai prosedur yang berlaku.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan transportasi udara. Aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada pergerakan penumpang juga ikut terdampak selama kondisi tersebut berlangsung. (af)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
