Sering Check Out Tanpa Sadar? Kenali Jebakan Scroll yang Bikin Kantong Jebol!

Sering checkout tanpa sadar saat scroll media sosial? Kenali bagaimana algoritma, FOMO, dan influencer mendorong perilaku konsumtif.
by Desember 27, 2025
2 mins read
perilaku konsumtif akibat media sosial
Ilustrasi Check Out (Sumber: Canva)

Pernahkah Anda membuka Instagram atau TikTok dengan niat awal hanya untuk melihat kabar teman, namun sepuluh menit kemudian justru berakhir di halaman checkout toko daring?

Fenomena ini hampir dialami oleh semua pengguna media sosial. Di era digital, media sosial bukan lagi sekadar sarana komunikasi. Ia telah bertransformasi menjadi etalase raksasa yang mengikuti ke mana pun kita pergi, bahkan seolah sangat memahami isi kepala kita. Secara halus, algoritma ini mengaburkan batasan antara kebutuhan dan keinginan, hingga kita sering kali sulit membedakan keduanya dan tanpa sadar membuat menjadi lebih konsumtif.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumtif di media sosial bukan terjadi secara kebetulan. Ada pola, strategi, dan mekanisme tertentu yang bekerja di balik layar, memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan akhirnya mengambil keputusan. Untuk memahami mengapa kebiasaan “scroll lalu checkout” begitu mudah terjadi, penting menelusuri faktor-faktor yang membuat media sosial sangat efektif mendorong perilaku konsumtif.

Mengapa Media Sosial Memicu Perilaku Konsumtif?

Gaya hidup konsumtif, yaitu perilaku membeli barang secara berlebihan, tidak terencana, dan didorong oleh emosi, bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab. Ada mekanisme psikologis yang diperkuat oleh fitur-fitur canggih di media sosial:

1. Paparan Iklan yang Sangat Personal

Algoritma media sosial dirancang khusus untuk merekam minat Anda. Jika Anda baru saja mencari “sepatu lari” di mesin pencari, jangan kaget jika lini masa Anda tiba-tiba dipenuhi iklan sepatu dengan diskon menggiurkan. Personalisasi ini memperbesar godaan untuk belanja dan mempercepat transisi menuju gaya hidup konsumtif.

2. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)

Budaya FOMO adalah pemicu kuat lainnya. Melihat teman atau influencer mengunggah gawai terbaru atau tren pakaian terkini sering kali memicu rasa takut tertinggal. Muncul dorongan untuk memiliki barang yang sama agar tetap dianggap “relevan” dalam lingkaran sosial.

3. Kekuatan Influencer Marketing

Berbeda dengan selebritas di televisi, influencer terasa lebih dekat dan tepercaya. Saat mereka merekomendasikan produk dalam keseharian mereka, audiens cenderung menganggapnya sebagai saran dari seorang teman, bukan iklan. Hal ini menurunkan kewaspadaan kita terhadap dorongan belanja yang impulsif.

4. Kemudahan Akses Belanja (Social Commerce)

Fitur seperti TikTok Shop atau Instagram Shopping memungkinkan transaksi terjadi dalam hitungan detik tanpa harus keluar dari aplikasi. Semakin sedikit hambatan dalam proses membeli, semakin besar kemungkinan kita melakukan impulse buying.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

Meskipun belanja memberikan lonjakan dopamine (rasa senang) sesaat, perilaku konsumtif yang tidak terkendali dapat berdampak buruk, di antaranya:

Ketimpangan Finansial: Pengeluaran menjadi lebih besar daripada pemasukan.

Penumpukan Barang: Barang yang dibeli hanya karena tren sering kali berakhir di gudang tanpa pernah terpakai.

Gangguan Psikologis: Munculnya rasa cemas dan rendah diri jika tidak mampu mengikuti gaya hidup mewah yang dipamerkan orang lain.

Tips Menghindari Jebakan Konsumtif

Agar tetap bisa menikmati media sosial tanpa menguras kantong, coba terapkan langkah sederhana berikut:

Gunakan Aturan 24 Jam: Jika melihat barang yang diinginkan, tunggu satu hari sebelum memutuskan membeli. Biasanya, keinginan tersebut akan luntur setelah emosi mereda.

Kurasi Lini Masa: Unfollow atau senyapkan (mute) akun-akun yang secara agresif mendorong Anda untuk terus berbelanja.

Matikan Notifikasi Belanja: Jangan biarkan pemberitahuan diskon menginterupsi fokus Anda. Matikan notifikasi aplikasi belanja di ponsel Anda.

Prioritaskan Kebutuhan: Latih diri untuk selalu bertanya, “Apakah saya butuh ini, atau hanya ingin?” sebelum menekan tombol beli. Bedakan antara kebutuhan dan sekadar keinginan.

Media sosial pada dasarnya adalah alat yang netral; pengaruhnya bergantung pada cara kita menggunakannya. Dengan menyadari taktik pemasaran yang ada dan memahami psikologi diri sendiri, kita bisa tetap terhubung secara digital tanpa harus terjebak dalam siklus konsumerisme yang merugikan.

Namun, dengan literasi digital yang baik dan kemampuan mengelola emosi, media sosial tetap bisa dinikmati sebagai ruang berbagi, belajar, dan terhubung. Kuncinya bukan berhenti menggunakan media sosial, melainkan menjadi pengguna yang sadar, kritis, dan mampu mengendalikan diri di tengah derasnya godaan konsumtif yang terus muncul di layar gawai kita.

Baca Juga