Ketika Apple Bicara Privasi: Benarkah Chrome Masalah Utamanya?

Apple menyoroti Chrome di iPhone atas alasan privasi. Namun bagi pengguna Indonesia, isu ini lebih kompleks dari sekadar ganti browser.
by Desember 31, 2025
1 min read
Ilustrasi Safari dan Chrome. YANDI NOVIA/ PERSPEKTIF SPACE

Apple kembali mengangkat isu privasi dengan menyoroti penggunaan Google Chrome di perangkat iPhone. Peringatan ini menegaskan perbedaan pendekatan antara Apple dan Google dalam mengelola data pengguna.

Namun, di balik pesan perlindungan privasi itu, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan, apakah ini murni demi kepentingan pengguna, atau bagian dari persaingan bisnis dua raksasa teknologi?

Bagi pengguna iPhone di Indonesia, isu ini tidak bisa diterima mentah-mentah. Perlu sikap kritis agar tidak terjebak narasi sepihak.

Chrome Disorot, Praktik Pelacakan Jadi Masalah Utama

Apple menilai Chrome memiliki pendekatan yang lebih longgar dalam hal pelacakan data. Browser milik Google ini dikenal mengandalkan cookies pihak ketiga dan sistem pelacakan lintas situs untuk mendukung iklan tertarget.

Berbeda dengan Safari yang secara default membatasi pelacakan, Chrome memberi ruang lebih besar bagi pengumpulan data perilaku pengguna. Apple menyebut praktik ini berpotensi mengancam privasi, terutama jika pengguna tidak memahami pengaturan yang tersedia.

Secara teknis, Chrome tetap memberi opsi kontrol privasi. Masalahnya, kontrol itu tidak selalu mudah dipahami oleh pengguna awam.

Privasi atau Strategi Bisnis?

Apple secara konsisten memosisikan diri sebagai “penjaga privasi”. Kampanye ini terlihat dari fitur App Tracking Transparency hingga promosi yang menekankan bahwa data pengguna tidak diperjualbelikan.

Namun, perlu diingat, Apple tidak sepenuhnya netral. Dengan mendorong Safari dan membatasi kompetitor, Apple juga melindungi ekosistemnya sendiri.

Artinya, peringatan terhadap Chrome tidak berdiri di ruang hampa. Ada kepentingan bisnis yang berjalan seiring dengan narasi perlindungan pengguna.

Konteks Indonesia: Chrome Masih Jadi Favorit

Di Indonesia, Chrome masih menjadi browser paling banyak digunakan, termasuk di iPhone. Alasannya sederhana:

  • Sinkron dengan akun Google
  • Terhubung ke Gmail, Drive, dan YouTube
  • Familiar bagi pengguna Android yang pindah ke iPhone

Dalam kondisi ini, peringatan Apple berpotensi diabaikan. Bukan karena tidak peduli privasi, tapi karena faktor kenyamanan dan kebiasaan lebih dominan.

Selain itu, literasi privasi digital di Indonesia masih berkembang. Banyak pengguna belum menyadari bagaimana data mereka dikumpulkan dan digunakan.

Pengguna Perlu Lebih Aktif, Bukan Sekadar Patuh

Alih-alih sekadar berpindah browser, pengguna iPhone di Indonesia perlu mengambil peran aktif. Beberapa langkah realistis yang bisa dilakukan:

  • Meninjau izin pelacakan aplikasi di iOS
  • Mengatur privasi Chrome secara manual
  • Membatasi akun Google yang selalu login
  • Menggunakan fitur screen time dan privacy report

Privasi bukan soal memilih Safari atau Chrome, melainkan soal memahami konsekuensinya.

Jangan Terjebak Narasi Tunggal

Peringatan Apple soal Chrome memang relevan, tapi tidak otomatis menjadikan Apple sebagai pihak paling benar. Di era ekonomi data, hampir semua platform punya kepentingan.

Bagi pengguna Indonesia, sikap paling masuk akal adalah tetap kritis: tidak menutup mata pada risiko Chrome, tapi juga tidak menelan mentah-mentah klaim Apple.

Kontrol terbaik atas data digital tetap ada di tangan pengguna, bukan di kampanye iklan perusahaan teknologi.

Baca Juga