Warisan Leluhur Dayak, Pakanan Sahur dan Mapas Lewu Digelar di Pahandut

Ritual ini menjadi bagian penting dari rangkaian prosesi Mamapas Lewu, yang bertujuan membersihkan kampung secara lahir dan batin dari berbagai pengaruh negatif.
by Januari 24, 2026
1 min read
Sekda Kota Palangka Raya Arbert Tombak menghadiri ritual Pakanan Sahur dan Mapas Lewu di Balai Basarah Tuyang Hasuling Riwut, Pahandut, Jumat (23/1/2026). MMC Palangka Raya/YANDI NOVIA

Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Sekretaris Daerah Arbert Tombak menghadiri ritual Pakanan Sahur dan Mapas Lewu di kawasan Pahandut, Kota Palangka Raya, Jumat (23/1/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Basarah Tuyang Hasuling Riwut dan diikuti unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama Hindu Kaharingan, serta masyarakat setempat.

Rangkaian ritual berlangsung khusyuk dan tertib, mencerminkan kuatnya tradisi budaya Dayak yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Palangka Raya. Prosesi ini menjadi ruang perjumpaan antara nilai spiritual, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.

Pakanan Sahur Lewu merupakan ritual syukuran tahunan dalam ajaran Hindu Kaharingan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Ritual ini menjadi bagian penting dari rangkaian prosesi Mamapas Lewu, yang bertujuan membersihkan kampung secara lahir dan batin dari berbagai pengaruh negatif.

Dalam konteks spiritual, Pakanan Sahur dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, keselamatan, dan kesejahteraan yang diterima masyarakat. Ritual ini juga menjadi doa bersama agar kehidupan ke depan senantiasa dilimpahi kedamaian, kesehatan, dan dijauhkan dari marabahaya.

Sekda Kota Palangka Raya, Arbert Tombak, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan ritual adat dan keagamaan yang masih terjaga dengan baik di tengah masyarakat.

“Pakanan Sahur Lewu dan Mapas Lewu merupakan warisan leluhur dan budaya yang sarat nilai spiritual, kebersamaan, serta kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan,” ucapnya.

Ia menegaskan, kehadiran Pemerintah Kota Palangka Raya dalam ritual tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pengurus Hindu Kaharingan Kecamatan Pahandut secara khusus, serta umat Hindu Kaharingan secara umum.

Pemerintah daerah, menurutnya, memandang ritual adat dan keagamaan sebagai bagian penting dalam menjaga identitas budaya, harmoni sosial, serta keberlanjutan nilai-nilai lokal di tengah modernisasi kota. (red/yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga