Di era digital yang berkembang pesat seperti sekarang, dunia seolah berada dalam genggaman. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah lanskap gaya hidup manusia secara drastis melalui kemudahan akses belanja daring (online). Namun, di balik kecanggihan tersebut, muncul sebuah fenomena mengkhawatirkan, yaitu semakin kaburnya batas antara kebutuhan primer dan keinginan sesaat.
Banyak orang terjebak dalam siklus konsumtif, di mana hasrat untuk memiliki barang baru jauh lebih besar daripada manfaat fungsionalnya. Akibatnya, ruang-ruang privat kita kini dipenuhi oleh tumpukan barang tidak terpakai yang pada akhirnya hanya akan berakhir menjadi tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.
Fenomena ini bukan sekadar masalah gaya hidup individu, melainkan krisis lingkungan yang sangat nyata. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, kontribusi sampah terbesar justru berasal dari aktivitas domestik, di mana sekitar 50,8% sampah nasional bersumber dari rumah tangga.
Hal ini membuktikan bahwa peningkatan volume sampah berbanding lurus dengan gaya hidup konsumtif masyarakat. Dengan rata-rata setiap penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 0,85 kg sampah per hari, akumulasi ini menjadi beban berat bagi ekosistem.
Jika kita tidak segera mengubah pola pikir, timbulan sampah tahunan akan terus membengkak melampaui kapasitas pengolahan yang ada.
Gaya hidup konsumtif ini tidak muncul secara organik, melainkan didorong secara sistematis oleh kekuatan teknologi di media sosial. Melalui algoritma yang sangat personal, platform digital mampu membedah perilaku, selera, hingga jam aktif kita untuk kemudian menyuguhkan tren terbaru secara terus-menerus. Iklan yang repetitif dan teknik pemasaran yang persuasif sering kali menciptakan urgensi palsu atau yang sering disebut sebagai Fear of Missing Out (FOMO).
Kita seolah merasa akan tertinggal secara sosial jika tidak memiliki produk terbaru yang sedang viral.
Ketertarikan yang dipicu oleh kecerdasan buatan ini sering kali berujung pada pembelian impulsif. Sayangnya, kepuasan emosional saat menekan tombol “beli” biasanya bersifat fana. Barang yang dibeli dengan antusias itu sering kali hanya berakhir menjadi sampah plastik atau limbah tekstil (fast fashion) dalam waktu singkat.
Dampak dari pola perilaku ini sangat fatal bagi masa depan. Berdasarkan proyeksi lingkungan, pada tahun 2025, produksi sampah plastik nasional diperkirakan mencapai 12,4 juta ton, namun ironisnya hanya sekitar 11% yang mampu diserap oleh industri daur ulang.
Sampah yang menggunung ini memberikan dampak negatif yang masif, mulai dari mikroplastik yang masuk ke rantai makanan hingga emisi gas rumah kaca dari pembusukan sampah organik di TPA yang berkontribusi pada pemanasan global.
World Bank memproyeksikan bahwa jika pola konsumsi “ambil-buat-buang” ini terus berlanjut tanpa intervensi, volume sampah dunia akan meningkat drastis sebesar 70% pada tahun 2050.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai ini? Langkah pertama adalah beralih dari ekonomi linier menuju ekonomi sirkular. Kita harus mulai mempraktikkan gaya hidup minimalis dengan prinsip conscious consumption atau konsumsi sadar.
Artinya, setiap kali ingin membeli sesuatu, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkannya, atau ini hanya pengaruh algoritma?” Selain itu, mengadopsi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara disiplin di level rumah tangga dapat mengurangi beban sampah domestik secara signifikan.
Memilih produk dengan kemasan minim plastik atau mendukung merek yang memiliki program keberlanjutan juga merupakan langkah kecil yang berdampak besar.
Sesuatu yang perlu direnungkan. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga bumi? Sudah saatnya kita mulai sadar dan mengambil peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Mengurangi sampah hasil konsumsi bukan hanya tentang membuang sampah pada tempatnya, tetapi tentang kebijaksanaan kita dalam mengendalikan hasrat belanja sejak awal.
Mari kita mulai mengubah kebiasaan hari ini. Dengan beralih ke gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, kita tidak hanya menyelamatkan keuangan pribadi dari jeratan konsumerisme, tetapi juga memberikan napas panjang bagi bumi agar tetap terawat, sehat, dan layak huni bagi generasi mendatang.
