Fatherless Makin Populer, Jutaan Anak Indonesia Terkena Dampaknya

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah bentuk sederhana dari kehadiran yang bermakna.
Ilustrasi Ayah dan Anak (Sumber : Canva)

Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang menempati posisi ke-3 sebagai fatherless country. Fatherless sendiri merujuk pada kondisi seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur seorang ayah dalam kehidupannya, baik secara fisik maupun emosional.

Fatherless sendiri merujuk pada kondisi seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur seorang ayah dalam kehidupannya, baik secara fisik maupun emosional.

Berdasarkan data Badan (PBB) untuk Anak-Anak (UNICEF) mencatat pada tahun 2021 sebanyak 20,1% anak Indonesia alami fatherless. Sedangkan dari data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik Maret 2024, sebanyak 15,9 juta anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran figur ayah.

Angka ini menunjukkan absennya ayah dalam pengasuhan telah menjadi fenomena sistemik. Budaya patriaki yang masih kental di masyarakat menganggap bahwa peran ayah hanya sebatas pada mencari nafkah dan memberikan materi, sehingga tidak perlu lagi dibebani dengan tangisan anak atau bermain dengan anak. Membuat para ayah hanya fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan hanya dipikul oleh ibu.

Di banyak daerah perkotaan, pola kerja yang panjang, tekanan ekonomi yang semakin berat dan kebutuhan hidup yang tinggi membuat ayah jarang hadir di rumah hingga hubungan yang renggang dalam keluarga membuat ayah semakin jauh, meninggalkan ruang kosong dalam pengasuhan. Tak sedikit pula kasus kekerasan dalam rumah tangga, hingga terjadinya broken home memperburuk jarak emosional antara ayah dan anak.

Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat banyak anak yang kehilangan figur ayah dalam kehidupannya, haus akan kasih sayang. Memungkinkan anak mudah depresi, kehilangan kepercayaan diri dan gangguan kecemasan. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan psikologis anak yang serius, seperti yang dikatakan oleh Psikolog dari Toraja, Sulawesi Selatan, Lindarda S. Panggalo, dikutip dari Kompas.id.

Dampak-dampak tersebut juga dapat berakibat pada masalah sosial. Seperti kesulitan menetapkan identitas diri hingga melakukan penyimpangan seksual, LGBT dan berpotensi melakukan tindakan kekerasan bahkan menjadi korban kekerasan.

Fenomena fatherless bukan hanya sekedar persoalan hubungan personal ayah dan anak, tetapi cerminan dari kondisi kehidupan sosial yang lebih luas, mulai dari tekanan ekonomi, budaya patriaki, pola kerja panjang hingga minimnya kebijakan yang mendukung keseimbangan peran keluarga. Ketidakhadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, telah menciptakan ruang kosong dalam pengasuhan dan proses tumbuh kembang generasi muda Indonesia.

Lalu, bagaimana mengatasi masalah fatherless? Keluarga harus kembali memaknai peran ayah, bukan hanya memberikan nafkah berupa sandang, pangan, dan papan bagi keluarga, tetapi juga menjadi role model di dalam keluarga. Memberikan pendidikan terbaik, memberikan perhatian, bimbingan, nasihat, senyuman, dekapan hangat penuh kasih sayang. Di sini pentingnya ayah untuk kembali belajar tentang parenting dan menghapus pola patriaki yang membudaya mengenai peran laki-laki.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah bentuk sederhana dari kehadiran yang bermakna. Di sisi lain, para ibu membutuhkan ruang untuk berbagi peran dalam pengasuhan hingga tak terbebani dengan beban ganda ketika absennya ayah dalam emosional dan perasaan tidak adil karena kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga.

Negara pun harus hadir terlibat dalam kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan keluarga. Misalnya dengan menetapkan jam kerja yang manusiawi sehingga menjadikan para ayah bekerja sewajarnya, tidak diforsir atau penyediaan layanan yang memungkinkan ayah mudah dalam menjangkau tempat kerjanya, sehingga waktu bersama keluarga tersedia.

Negara juga bisa menyediakan layanan publik secara murah sehingga tidak membuat ayah stress memikirkan biaya pendidikan, kesehatan, transportasi dan energi. Inilah langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan fenomena fatherless, memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam kasih sayang yang utuh dengan kehadiran ayah sebagai bagian dari kehidupan anak.