Beras, ikan nila, dan cabai menjadi sejumlah komoditas penyumbang inflasi di Kota Palangka Raya. Di tengah kondisi tersebut, kabut asap turut memengaruhi pertumbuhan tanaman seperti cabai dan tomat, sedangkan surutnya air menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga ikan nila.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, menyampaikan hal tersebut berdasarkan hasil rapat koordinasi yang dipimpin Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Ia mengatakan, komoditas penyumbang inflasi di Palangka Raya memiliki kemiripan dengan kondisi nasional.
“Untuk Kota Palangka Raya memang hampir mirip dengan secara nasional. Misalnya beras, ikan nila, cabai dan cabai merah menjadi beberapa komoditas yang menyumbang inflasi,” kata Achmad Zaini.
Ia menjelaskan, kondisi air yang mulai surut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga ikan nila. Sementara pada komoditas pertanian, kabut asap dinilai menghambat pertumbuhan tanaman sehingga hasilnya tidak dapat maksimal.
“Dalam kondisi asap seperti ini, pertumbuhan komoditas seperti cabai, tomat dan sebagainya tidak bisa maksimal,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemko Palangka Raya berupaya menjaga ketersediaan kebutuhan pokok dengan mendatangkan sejumlah komoditas dari luar daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan dan distribusi tetap berjalan.
“Beberapa komoditas banyak kita datangkan dari luar, tetapi kita tetap menjaga agar pasokan dan distribusi tetap terjaga,” jelasnya.
Achmad Zaini memastikan hingga saat ini belum terjadi kekurangan pasokan kebutuhan pokok di Palangka Raya. Pemko juga berupaya menjaga harga tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Salah satu langkah yang akan dilakukan ialah menggelar kembali pasar murah dan bantuan sosial (bansos) di sejumlah wilayah. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Kelurahan Kareng dan selanjutnya direncanakan berpindah ke lokasi lain.
“Kita tetap menjaga harga stabil. Pemerintah kota juga akan melakukan kegiatan pasar murah dan bansos seperti yang kita lakukan kemarin di Kelurahan Kareng. Nanti kita berpindah ke tempat-tempat lain untuk menjaga keterjangkauan harga masyarakat,” pungkasnya. (af/yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
