Puji Program Strategis Kementerian P2MI, Yogi Syahputra: Peluang Besar Bagi Masa Depan Generasi Muda

Generasi muda Indonesia dapat tampil bukan hanya sebagai tenaga kerja di luar negeri, tetapi sebagai representasi kualitas bangsa.
by November 29, 2025
1 min read
Koordinator Presidium Nasional BEM PTMA Indonesia Yogi Syahputra Alidrus bersama Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla.

Program Strategis Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) melalui skema Quick Win penyiapan 500.000 pekerja migran terampil untuk 2025–2026 mendapat dukungan kuat dari Koordinator Presidium Nasional (Koorpresnas) BEM PTMA Indonesia, Yogi Syahputra Alidrus. Ia menilai langkah pemerintah ini sebagai terobosan besar bagi generasi muda memasuki pasar global.

Yogi menilai, di tengah ketatnya kompetisi internasional, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa negara mulai menempatkan kaum muda pada strategi besar pembangunan SDM. Mobilitas global, katanya, bukan lagi pilihan alternatif, tetapi kebutuhan era.

“Program quick win Kementerian P2MI adalah langkah cepat, terukur, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pemerintah menunjukkan keseriusan dalam membuka ruang mobilitas global bagi anak muda Indonesia,” ujar Yogi kepada redaksi Perspektif Space, Sabtu (29/11/25).

Baginya, target 500.000 PMI terampil bukan sekadar jumlah ambisius. Angka itu mencerminkan reposisi Indonesia dalam peta tenaga profesional dunia, dari sekadar penyedia tenaga kerja umum, menuju penempatan tenaga kerja dengan SDM berkompetensi tinggi. 

Jalur percepatan karier berbasis kompetensi internasional menjadi ruang yang selama ini banyak dicari anak muda.

Program quick win, menurutnya, menawarkan kepastian, yakni pelatihan yang relevan, sertifikasi yang diakui, dan peluang kerja yang lebih terarah. Ini sekaligus menjawab harapan generasi baru terhadap kerja profesional, pengalaman lintas negara, dan jenjang karier yang jelas.

“Anak muda ingin pengalaman global, lingkungan kerja profesional, dan jalur karier yang pasti. Program ini memberi jalan itu dengan cara yang sistematis,” tegasnya.

Yogi juga menyoroti mahasiswa dari kampus-kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang dinilainya memiliki modal awal kuat, mulai dari kultur akademik, kedisiplinan, hingga pembinaan karakter. Ia menyebut, kemampuan bahasa asing, pemahaman etos kerja global, dan keterampilan teknis sesuai standar internasional menjadi aspek yang perlu diperkuat agar peluang itu benar-benar bisa dimanfaatkan.

“Mahasiswa PTMA sangat siap. Tinggal dipertajam dengan kompetensi global yang lebih terstruktur,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai organisasi mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan informasi kebijakan pemerintah ke generasi muda. Peran itu menjadi penting agar minat mahasiswa bisa diarahkan ke sektor-sektor profesi yang menjadi prioritas program Quick Win.

“Kami siap menjadi mitra strategis P2MI dalam memastikan program ini tersampaikan dengan baik ke kampus-kampus PTMA di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Yogi menutup pernyataannya dengan dorongan kepada pemerintah agar terus memperkuat ekosistem penyiapan PMI yang profesional, aman, dan berstandar internasional agar anak muda Indonesia dapat bersaing di tingkat global. 

Ia berharap generasi muda Indonesia dapat tampil bukan hanya sebagai tenaga kerja di luar negeri, tetapi sebagai representasi kualitas bangsa. (Ahaf/yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga