National Aeronautics and Space Administration (NASA) kembali menarik perhatian publik setelah membagikan dua foto Bumi dari luar angkasa yang diambil dalam rentang waktu lebih dari setengah abad. Foto pertama diambil oleh awak Apollo 17 pada 1972, sementara foto terbaru berasal dari misi Artemis II.
Dalam unggahannya di platform X pada 4 April 2026, NASA menyampaikan pesan bahwa meski dunia telah berkembang pesat selama 54 tahun, satu hal tetap sama, bahwa Bumi masih terlihat menakjubkan dari luar angkasa.
Perbandingan dua foto tersebut langsung viral dan memicu perdebatan di kalangan warganet. Banyak yang mempertanyakan mengapa Bumi pada foto terbaru tampak lebih pucat dibandingkan gambar ikonik tahun 1972 yang dikenal sebagai “permata biru”.
Sebagian pengguna bahkan mengaitkan perbedaan tersebut dengan isu perubahan iklim. Namun, para ahli menegaskan bahwa faktor teknis menjadi penyebab utama.
Dilansir dari Hindustan Times, foto tahun 1972 menampilkan warna biru yang lebih cerah dan kontras tinggi. Sementara foto terbaru terlihat lebih lembut, tetapi memiliki detail yang lebih tajam.
Penjelasan lain datang dari LADbible yang menyebut bahwa foto terbaru diambil dari sisi gelap Bumi, yakni bagian yang sedang mengalami malam hari dan hanya diterangi cahaya bulan. Kondisi ini membuat gambar tampak lebih redup.
Selain itu, perbedaan teknologi kamera juga berpengaruh. Kamera film yang digunakan pada 1972 cenderung menghasilkan warna lebih kontras dan dramatis. Sebaliknya, kamera digital modern menghasilkan warna yang lebih realistis.
Dalam misi Artemis II, astronaut menggunakan kamera DSLR Nikon D5 serta iPhone untuk mengambil gambar di luar angkasa. Tantangan pemotretan diakui langsung oleh astronaut Reid Wiseman yang menyebut memotret Bumi dari luar angkasa tidaklah mudah.
Meski menuai perdebatan, foto terbaru tetap mendapat apresiasi. Banyak yang menilai gambar tersebut berhasil menghidupkan kembali momen bersejarah sekaligus mengingatkan bahwa Bumi adalah satu-satunya rumah bagi seluruh umat manusia.
Kurator citra wahana Orion, David Melenderz, menegaskan bahwa nilai utama dari foto tersebut bukan sekadar kualitas visual, melainkan perspektif yang ditawarkan.
Menurutnya, dari luar angkasa tidak terlihat batas negara, hanya satu planet yang menjadi rumah bersama seluruh manusia. Dan kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya. (Ahaf)
*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
