Dari Sampah Membuka Lapangan Kerja, Ini Peluang Green Jobs di Masa Depan

Penanganan masalah sampah di Indonesia yang mencapai 70 juta ton per tahun berpotensi besar menciptakan green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan. Seiring dorongan menuju ekonomi sirkular dan target Sustainable Development Goals (SDGs), berbagai profesi baru seperti waste auditor, konsultan ekonomi sirkular, hingga sustainability analyst semakin dibutuhkan, terutama dengan berkembangnya pengolahan sampah menjadi energi.
Potret proses pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. (Foto: Shutterstock)

Peluang kerja baru yang berkelanjutan atau green jobs disebut akan banyak tercipta dari upaya penanganan masalah sampah di Indonesia.

Dilansir dari Lestari Kompas, Founder Greeneration Indonesia dan CEO Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, menyebut Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 70 juta ton sampah per tahun, dengan hampir 60 persen di antaranya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tanpa pengelolaan optimal.

“Kalau kita serius mengatasi permasalahan sampah, akan muncul banyak green jobs yang sangat dibutuhkan,” ujarnya dalam webinar Green Jobs: Tantangan Transformasi dan Strategi Implementasi, Sabtu (14/3/2026) lalu.

Menurutnya, green jobs merupakan pekerjaan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, peluang kerja di sektor ini juga terus berkembang.

Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, pengelolaan sampah menjadi bagian penting.

Sano menambahkan, pengelolaan sampah di Indonesia perlu beralih dari ekonomi linier dengan pola kumpul-angkut-buang menuju ekonomi sirkular, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Transisi tersebut membutuhkan dukungan data, peningkatan keterampilan, serta integrasi antara pekerja formal dan informal.

Sejumlah jenis green jobs baru di sektor persampahan. Berikut daftarnya:

Pertama, waste auditor yang bertugas menganalisis komposisi sampah dan peluang pengurangannya.

Kedua, circular economy consultant yang merancang strategi bisnis berbasis ekonomi sirkular.

Ketiga, material recovery specialist yang mengelola pemulihan bahan bernilai dari sampah.

Keempat, sustainability analyst yang mengukur dampak lingkungan serta kinerja keberlanjutan perusahaan.

Selain itu, terdapat pula peran behavior change specialist yang mendorong perubahan perilaku produsen dan konsumen agar lebih ramah lingkungan.

Sano menilai kebutuhan tenaga kerja di sektor ini akan terus meningkat, seiring investasi pada fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE).

“Kalau satu pabrik membutuhkan ratusan tenaga kerja, maka pengembangan di banyak daerah akan membuka ribuan peluang kerja baru,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa prinsip keberlanjutan harus diterapkan di semua jenis pekerjaan, termasuk sektor non-lingkungan seperti akuntansi, sumber daya manusia, hingga legal.

“Semua pekerjaan sejatinya adalah green jobs jika dijalankan dengan prinsip keberlanjutan,” jelasnya.

Sano mengingatkan pentingnya konsistensi dalam penerapan pengelolaan sampah, termasuk di lingkungan kerja.

Fasilitas pemilahan sampah yang baik harus diikuti dengan pemahaman petugas di lapangan agar tidak terjadi pencampuran kembali saat pengangkutan. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga