Lima Orangutan Hasil Rehabilitasi Nyaru Menteng Dilepasliarkan ke Hutan Kalimantan

Pelepasliaran lima orangutan hasil rehabilitasi menjadi langkah berkelanjutan memulihkan populasi satwa endemik sekaligus menjaga kelestarian hutan hujan tropis Kalimantan.
by Juni 20, 2026
3 mins read

Sebanyak lima orangutan hasil rehabilitasi dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng kembali menghirup udara bebas setelah dilepasliarkan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah.

Pelepasliaran ini menjadi yang ke-47 sejak program rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng berjalan. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), serta sejumlah mitra nasional dan internasional.

Kelima individu yang terdiri atas tiga betina dan dua jantan tersebut telah melalui masa rehabilitasi panjang sebelum akhirnya dinyatakan siap hidup mandiri di alam liar. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memulihkan populasi orangutan Kalimantan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan hujan tropis.

Setiap orangutan yang kembali ke habitatnya membawa kisah perjuangan yang berbeda. Himba, misalnya, ditemukan saat masih bayi dengan luka bakar serius akibat kebakaran hutan. Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, orangutan jantan berusia 15 tahun itu tumbuh menjadi individu yang aktif menjelajah dan mampu mencari pakan alami secara mandiri.

Sementara Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun, tiba di Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan. Hampir 22 tahun menjalani rehabilitasi membentuknya menjadi individu yang mandiri dan lebih banyak beraktivitas di atas pohon.

Farida, betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, juga menunjukkan kemampuan adaptasi dan eksplorasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran. Bersama Nett dan Semeru, kelimanya kini memulai kehidupan baru di hutan Kalimantan.

Direktur Konservasi Kawasan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, mengatakan pelepasliaran orangutan merupakan bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem sekaligus penguatan fungsi kawasan konservasi sebagai habitat satwa liar.

“Pelepasliaran orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi sebagai habitat alami satwa liar, termasuk spesies yang terancam punah. Keberhasilan pelepasliaran ini menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, mitra pembangunan, dan masyarakat dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan populasi orangutan di alam liar,” Sapto Aji, dalam siaran pers yang diterima redaksi PerspektifSpace.com, Kamis (18/6/2026).

Menurut Sapto, kawasan konservasi memiliki peran strategis dalam memastikan satwa hasil rehabilitasi dapat kembali menjalankan fungsi ekologisnya di habitat yang aman dan sesuai. Karena itu, perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang efektif, serta pemantauan pascapelepasliaran harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi jangka panjang.

“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan ini. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah individu yang dilepasliarkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” katanya.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, menyebut setiap pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya bersama memulihkan keseimbangan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

“Setiap pelepasliaran orangutan adalah bagian dari upaya bersama untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan memastikan kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Ia mengapresiasi sinergi yang terus terbangun antara pemerintah dan berbagai mitra konservasi sehingga program pelestarian orangutan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Kami mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Mochamad Satori. Menurutnya, kawasan TNBBBR merupakan salah satu benteng penting bagi keberlangsungan hidup orangutan di alam liar.

“Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu benteng penting bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar. Lima individu orangutan yang dilepasliarkan hari ini akan menjadi bagian dari ekosistem hutan yang terus kami jaga bersama,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan orangutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

“Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, mengatakan setiap orangutan yang berhasil kembali ke hutan merupakan hasil dari proses rehabilitasi yang panjang dan penuh tantangan.

“Setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang panjang. Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar. Pelepasliaran ini bukan sekadar akhir dari proses rehabilitasi, tetapi awal dari kehidupan baru mereka di alam,” katanya.

Menurut Jamartin, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi dan ilmu pengetahuan masih memberikan harapan besar bagi pelestarian orangutan Indonesia.

“Bagi kami, keberhasilan ini adalah pengingat bahwa dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi yang kuat, kita masih memiliki harapan untuk menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia,” tuturnya.

Yayasan BOS juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra internasional, organisasi pendukung, serta para donor individu dari berbagai negara yang selama ini berkontribusi terhadap rehabilitasi, pelepasliaran, dan perlindungan habitat orangutan. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan upaya konservasi dapat terus berjalan demi menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia. (red/yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Go toTop

Baca Juga