Tantangan Pendidikan Meningkat, Tutor SKB Paser Salwa Dzulhijjah Tekankan Kesejahteraan Guru Harus Jadi Prioritas

Mengingatkan pemerintah agar tidak menempatkan pendidikan sebagai sektor kedua, kebijakan harus memprioritaskan pemerataan fasilitas, kesejahteraan guru, dan pelatihan yang benar-benar aplikatif.
by November 25, 2025
1 min read
Tutor Bahasa Inggris Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kabupaten Paser, Salwa Dzulhijjah Nanda Mahwan, S.Pd.

Tutor Bahasa Inggris Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Salwa Dzulhijjah Nanda Mahwan, menilai Hari Guru Nasional 2025 bukan hanya ajang perayaan, melainkan momentum refleksi mendalam bagi para pendidik.

Salwa menyebut, kondisi pendidikan yang berubah begitu cepat menuntut guru tak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi tumbuh kembang siswa di tengah dunia yang kian kompleks.

“Saya memaknainya sebagai pengingat bahwa profesi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi menjadi pendamping tumbuh kembang siswa dalam dunia yang semakin kompleks,” ujar Salwa kepada redaksi Persepktif Space, Selasa (25/11/2025).

Ia menegaskan bahwa guru kini tak hanya ditantang untuk relevan, tetapi juga tetap manusiawi dalam menghadapi dinamika sekolah, mulai dari transformasi digital hingga persoalan sosial di lingkungan pendidikan.

Pengajar muda kelahiran Tanah Grogot, 24 Februari 2001 ini menyoroti beban yang dipikul guru muda bahwa harus masuk dunia kerja dengan ekspektasi sangat tinggi.

“Guru muda harus masuk ke dunia kerja dengan memikul ekspektasi tinggi yang menuntut mereka serba bisa dalam waktu singkat,” jelasnya.

Ia menyebut guru dituntut terus mengikuti kebijakan yang berubah setiap tahun, namun di sisi lain kerap tidak didukung fasilitas memadai, terutama terkait penggunaan teknologi.

“Guru diminta inovatif, tapi sarana tidak selalu mendukung,” tambahnya.

Sebagai tutor kesetaraan, Salwa mengingatkan pemerintah agar tidak menempatkan pendidikan sebagai sektor kedua setelah pembangunan fisik.

Menurutnya, pendidikan nonformal juga memikul peran besar dalam menjawab persoalan yang tidak terselesaikan di sekolah formal.

“Pendidikan adalah kunci utama kemajuan suatu negara. Pemerintah perlu memperhatikan akar rumput pendidikan terlebih di daerah pelosok,” katanya.

Lulusan sarjana pendidikan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin ini menyebut implementasi Kurikulum Merdeka masih belum merata. Banyak guru terbebani peran ganda tanpa dukungan pelatihan dan fasilitas yang memadai.

“Saat ini peran guru tak hanya menjadi pengajar, tapi juga admin, konten kreator, editor video, fasilitator P5, wali kelas, bahkan event organizer,” ungkapnya.

Sementara itu, waktu dan hak yang diterima guru kerap tidak sebanding dengan beban kerja.

Salwa juga menyoroti masih banyak guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah UMR.

Selain itu, pemerataan jaringan internet, perangkat mengajar, hingga learning material dinilai sangat menentukan kualitas belajar.

“Perlu adanya perlindungan dan kesejahteraan guru yang menjamin keamanan, kenyamanan, gaji layak, serta kejelasan status kepegawaian,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah mampu merumuskan kebijakan yang sesuai dengan realitas lapangan, bukan sekadar proyek yang tidak berdampak.

“Kebijakan harus memprioritaskan pemerataan fasilitas, kesejahteraan guru, dan pelatihan yang benar-benar aplikatif,” tutur Salwa.

Kepada sesama guru, ia mengajak untuk saling menguatkan, merangkul, dan memberdayakan satu sama lain.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, orang tua, sekolah, dan pemerintah dalam membangun pendidikan.

Di akhir pernyataannya, Salwa menyampaikan harapannya agar Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum perubahan nyata.

“Pendidikan yang baik dimulai dari guru yang bahagia, dihargai, dan didukung secara nyata,” pungkasnya. (Ahaf)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga