Momen HGN 2025, Guru BK MTsN 2 Palangka Raya Ali Al Arobi: Doakan Guru Semakin Sejahtera, dan Harap Administrasi ASN Lebih Sederhana

Sehingga guru dapat bekerja maksimal dan lebih fokus pada proses belajar mengajar.
Guru Bimbingan dan Konseling MTs Negeri 2 Kota Palangka Raya, Ali Al Arobi, S.Pd.

Guru Bimbingan dan Konseling MTs Negeri 2 Kota Palangka Raya, Ali Al Arobi, S.Pd., menyampaikan harapan agar kesejahteraan guru semakin meningkat dan beban administrasi ASN dapat disederhanakan.

“Semoga guru di Indonesia semakin sejahtera, sehingga dapat bekerja maksimal. Saya juga berharap administrasi ASN bisa lebih sederhana agar guru bisa lebih fokus pada proses belajar mengajar,” ujar Ali kepada redaksi Perspektif Space di Palangka Raya, Selasa (25/11/2025).

Selain itu, Ali juga menegaskan bahwa peringatan Hari Guru Nasional 2025 bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momen penting bagi seluruh pendidik untuk melakukan refleksi dan evaluasi.

“Hari Guru Nasional bukan hanya seremonial. Ini adalah momentum untuk menghargai jasa pahlawan tanpa tanda jasa dan kesempatan bagi setiap pendidik untuk meningkatkan mutu dan profesionalismenya,” ujarnya.

Lebih jauh, menurutnya, peningkatan kompetensi guru membutuhkan dukungan berkelanjutan berupa pelatihan dan fasilitas pembelajaran digital.

Meski begitu, ia menekankan bahwa yang terpenting adalah kemauan guru untuk berkembang secara mandiri.

“Pelatihan dan fasilitas sudah banyak disediakan, termasuk oleh Kementerian Agama. Tapi yang paling utama adalah keinginan guru untuk mengembangkan kompetensinya sendiri agar pembelajaran lebih berkualitas,” ujar Ali yang pada tahun 2024 lalu menjadi perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kalimantan Tengah di ajang bergengsi Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Inspiratif, Inovatif, dan Dedikatif karena meluncurkan program “Rabu Ceria” (Cerita Inspirasi Siswa).

Berbicara mengenai tantangan saat ini, menurut Guru BK yang baru berusia 34 tahun ini mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi guru saat ini berkaitan dengan perkembangan teknologi dan dinamika perilaku remaja.

Guru harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang serba cepat.

“Perkembangan teknologi begitu cepat sehingga guru dituntut memahami dan mengerti teknologi masa kini. Sementara dinamika perilaku remaja membutuhkan peran besar guru dan orang tua untuk membentuk sopan santun sesuai norma,” jelasnya.

Terkait dengan implementasi kurikulum, ia menjelaskan bahwa madrasah memiliki karakteristik khusus karena harus mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kekhasan pendidikan Islam. Pada 2025, Kementerian Agama menekankan kurikulum berbasis cinta.

“Kurikulum berbasis cinta menanamkan nilai toleransi, kemanusiaan, nasionalisme, dan kelestarian alam melalui pendekatan Islam. Ini selaras dengan semangat moderasi beragama,” katanya.

Selain itu, Ali juga menyoroti tantangan era digital, terutama terkait penggunaan gawai, media sosial, dan teknologi AI di kalangan siswa. Di MTsN 2 Kota Palangka Raya, penggunaan gawai dibatasi ketat.

“Siswa tidak diizinkan membawa gawai pada proses pembelajaran. Penggunaan teknologi seperti gawai hanya diperbolehkan saat pengambilan nilai semester,” terangnya.

“Dengan begitu, pemanfaatan teknologi tetap berimbang dengan pembelajaran reguler,” tutupnya. (Ahaf/yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga