Guru Al-Qur’an Hadist MTs Hidayatul Insan Kota Palangka Raya sekaligus Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Filosofi Islamic Boarding School (FIBS), Desy Nur Hikmah, menyampaikan pandangannya terkait peringatan Hari Guru Nasional 2025.
Baginya, HGN adalah momentum refleksi bagi setiap pendidik untuk melihat kembali perjalanan mengajar dan pengabdian kepada generasi muda.
“Hari Guru Nasional adalah momen untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan mengajar, dan mensyukuri kesempatan mendidik generasi muda,” ujar Desy kepada redaksi Perspektif Space di Palangka Raya, Selasa (25/11/2025).
Lebih lanjut, ia memandang bahwa guru bukan hanya soal profesi tapi juga bagaimana pengbdian dalam membentuk akhlak.
“Ini bukan hanya profesi, tetapi pengabdian dalam membentuk akhlak, karakter, dan kecintaan siswa pada ilmu agama,” terangnya.
Desy yang merupakan Sarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palangka Raya ini mengungkapkan bahwa tantangan yang paling terasa bagi guru saat ini adalah perubahan kurikulum yang dinamis, perkembangan teknologi yang sangat cepat, serta karakter remaja yang semakin kritis dan cepat bosan.
“Guru harus cepat beradaptasi. Tidak semua siswa menggunakan teknologi secara positif, dan perilaku remaja semakin kritis. Ini membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kreatif dan dialogis,” jelasnya.
“Dalam Pendidikan Agama Islam dan Qur’an Hadits , tantangannya adalah bagaimana membuat materi tetap relevan dan menarik bagi siswa yang hidup di era digital,” tambahnya.
Menurut Desy, penerapan Kurikulum Merdeka di MTs Hidayatul Insan dan SMP FIBS berdampak positif karena memberi ruang lebih fleksibel bagi guru dalam memilih metode pembelajaran.
“Guru lebih leluasa mengembangkan metode, misalnya project based learning untuk materi akhlak atau sejarah Islam. Siswa jadi lebih aktif,” jelasnya.
Guru muda kelahiran Palangka Raya 30 April 2002 ini menjelaskan bahwa kurikulum merdeka cukup membantu para guru dalam proses pengajaran.
“Kurikulum Merdeka membantu guru mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata sehingga siswa lebih mudah memahami dan mempraktikkan nilai-nilai Islam,” jelasnya.
Ia juga menilai penggunaan teknologi tidak perlu dilarang sepenuhnya, tetapi diarahkan melalui literasi digital dan etika bermedia yang sesuai dengan nilai ajaran Islam.
“Gawai dan media sosial harus diarahkan ke hal positif. Teknologi bisa dipakai untuk menonton video sejarah Islam, mendengar murottal, mempelajari tajwid, sampai simulasi ibadah, termasuk AI dapat menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti usaha siswa,” terangnya.
Sebagai pendidik, Desy menilai pelatihan berkelanjutan sangat penting, terutama terkait teknologi pembelajaran, Kurikulum Merdeka, dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang kini diterapkan di Kemenag.
“Pelatihan berkelanjutan dan fasilitas pembelajaran yang memadai sangat dibutuhkan. Lingkungan kerja juga perlu suportif. Guru juga butuh waktu cukup untuk merancang pembelajaran kreatif, bukan hanya mengurus administrasi,” katanya.
Menutup pernyataannya, Desy menyampaikan harapan agar seluruh guru di Indonesia tetap menjadi pembelajar sepanjang hayat dan terus berinovasi dalam mendidik generasi muda.
“Teruslah berkarya, berinovasi, dan menjaga keikhlasan. Setiap kata yang diajarkan adalah cahaya bagi masa depan bangsa dan menjadi pahala jariyah,” ujarnya.
“Semoga para guru di FIBS dan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Insan diberi kekuatan untuk menanamkan iman, akhlak, dan kecintaan pada Al-Qur’an,” tutupnya. (Ahaf)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
