Fitradi Guru Informatika SMPS Harapan Bisma Katingan Sebut Peran Guru Kini Jadi Navigator dan Gatekeeper di Era Digital

Peran penting untuk memastikan siswa tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi kreator digital yang bertanggung jawab.
by November 25, 2025
1 min read
Guru Informatika SMPS Harapan Bisma Katingan, Fitradi Dwi Yulianto, S.Kom.

Momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2025 menjadi ruang bagi Guru Informatika SMPS Harapan Bisma Katingan, Fitradi Dwi Yulianto, untuk menegaskan bahwa peran guru di era digital telah berubah drastis. Tidak lagi sekadar pengajar teknis, guru kini menjadi navigator sekaligus gatekeeper bagi siswa dalam menggunakan teknologi.

Menurut Fitradi, HGN tahun ini menjadi momen penting untuk menegaskan kembali peran strategis guru informatika dalam menyiapkan generasi masa depan.

“Hari Guru Nasional 2025 ini terasa seperti titik balik yang krusial. Peran saya bukan lagi sekadar mengajarkan cara memakai komputer. Di era digital, saya adalah pemandu dan penjaga gerbang,” ujar Fitradi kepada redaksi Perspektif Space, Selasa (25/11/2025).

Ia menjelaskan, guru informatika kini bertanggung jawab memastikan siswa tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi kreator digital yang bertanggung jawab.

“Saya memastikan mereka memiliki literasi digital yang kuat, mampu memilah informasi, melawan hoaks, menjaga etika di dunia maya, dan menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah nyata,” tegasnya.

Guru muda kelahiran Purworejo, 24 Juli 2002 ini menyebut informatika memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi dunia yang dipenuhi data, algoritma, dan otomatisasi.

“Informatika adalah arsitek masa depan. Fondasinya sedang kita bangun hari ini,” ungkapnya.

Ia menilai perubahan cara belajar siswa saat ini bersifat revolusioner. Teknologi membuat siswa bisa mencari apa pun secara instan, namun juga membawa tantangan baru.

“Dulu guru sumber utama informasi. Sekarang siswa bisa menemukan jawaban dalam beberapa detik. Tantangannya, mereka mudah terdistraksi dan ingin serba cepat,” katanya.

Meski demikian, peluang belajar menjadi lebih personal. Siswa dapat menggunakan tutorial YouTube, sumber terbuka, hingga AI untuk memahami materi.

“Tugas saya adalah mengajarkan mereka berpikir kritis terhadap informasi yang mereka dapat dari internet dan AI,” imbuhnya.

Fitradi mengungkapkan bahwa ia tidak melarang penggunaan AI di kelas. Namun ia menekankan bahwa AI harus digunakan sebagai pendamping, bukan pengganti.

“Saya ajarkan AI sebagai co-pilot. Misalnya AI membantu mereka menyusun kerangka program, tetapi kode inti tetap mereka buat sendiri. Ini mengajarkan tanggung jawab,” jelasnya.

Selain coding, Fitradi juga mendorong kreativitas digital melalui desain grafis dan pembuatan UI/UX sederhana.

Untuk menjaga antusiasme siswa, Fitradi mengandalkan Project-Based Learning (PBL) yang dikombinasikan dengan gamifikasi.

Ia mencontohkan proyek nyata seperti pembuatan website sekolah atau game edukasi untuk adik kelas.

“Kalau karya mereka digunakan orang lain, motivasinya melonjak. Itu motivasi intrinsik yang kuat,” katanya.

Sementara gamifikasi dilakukan dengan tantangan berlevel, badge digital, hingga sistem leaderboard.

“Ini memanfaatkan kecintaan mereka pada game untuk mendorong mereka belajar lebih giat,” tutupnya. (Ahaf)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga