Momentum HGN 2025, Guru Muda Cimahi Nova Nafisah Nilai Istilah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Sudah Tak Relevan Lagi

Semakin layak tanda jasa guru, semakin terjamin kualitas lulusan yang dibentuk.
by November 25, 2025
1 min read
Guru SMP Dharma Kartini Cimahi, Nova Nafisah Zulfa, S.Pd.

Guru SMP Dharma Kartini Cimahi, Jawa Barat, Nova Nafisah Zulfa, menilai bahwa istilah guru pahlawan tanpa tanda jasa sudah tidak lagi relevan digunakan pada era pendidikan modern.

Menurutnya, kualitas dan kesejahteraan guru harus tercermin dalam penghargaan dan kompensasi yang layak agar mampu membentuk generasi emas di masa depan.

“Tanda jasa guru akan menjadi proyeksi kualitas guru tersebut dalam membentuk calon generasi emas. Istilah guru pahlawan tanpa tanda jasa sudah ketinggalan dan tak patut dilestarikan,” tegas Nova, Senin (25/11/2025).

Nova menyebut daerah seperti Bandung dan Cimahi menjadi contoh positif karena sudah memberikan standar gaji yang layak bagi para pendidik.

“Semakin layak tanda jasa guru, semakin terjamin kualitas lulusan yang dibentuk. Alhamdulillah Bandung dan Cimahi termasuk kota yang sudah sangat layak dalam menggaji guru,” ujarnya.

Meski demikian, guru muda kelahiran Bandung, 1 Maret 2002 ini mengakui beban administratif masih menjadi pekerjaan rumah dalam dunia pendidikan.

Ia menyebut administrasi sering kali membebani kreativitas guru dalam menerapkan model pembelajaran.

“Administrasi masih cenderung berat dibanding kebebasan berekspresi dalam menerapkan model ajar. Tapi katanya ini sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Nova berharap ke depan sistem pendidikan bisa semakin mengurangi aspek administratif yang tidak esensial, sehingga proses belajar benar-benar menjadi ruang kreatif seperti filosofi Ki Hajar Dewantara.

Nova yang juga saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa magister pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia ini mengungkapkan bahwa ia pribadi tidak terlalu terbebani administrasi karena sekolah tempatnya mengajar telah melakukan penyederhanaan internal.

“Di sekolah saya, beban administratif dieliminasi mandiri oleh sekolah. Jadi kami bisa lebih fokus pada kebebasan berekspresi dalam mengembangkan media ajar,” ucapnya.

Namun, ia mengakui bahwa di sekolah lain, beban administrasi masih menjadi persoalan serius yang menyulitkan guru.

Dalam momentum Hari Guru Nasional 2025, Nova juga menyuarakan kritik terkait kewajiban Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi sarjana pendidikan.

“Kami sarjana pendidikan sudah banyak belajar materi dan teori yang diajarkan lagi di PPG. Jadi mengapa harus PPG lagi? Saya rasa lebih bijak jika kami langsung difokuskan untuk P3K atau PNS,” tegasnya.

Nova menilai PPG lebih tepat diberikan kepada lulusan non-kependidikan yang beralih profesi menjadi guru.

Selain soal kebijakan pendidikan, Nova juga menyoroti kesejahteraan guru yang masih belum merata di berbagai daerah.

“Pertahankan gaji yang layak dan menyejahterakan. Beberapa daerah sudah berhasil, termasuk Bandung. Tetapi masih ada sekolah-sekolah yang dzolim menggaji guru jauh di bawah standar,” ujarnya.

Nova berharap pemerintah terus melakukan evaluasi agar tidak ada lagi guru yang bekerja keras namun tidak mendapatkan upah yang pantas. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga