OpenAI akan menerapkan watermark tak terlihat pada teks yang dihasilkan ChatGPT dan Codex di Uni Eropa sebagai bagian dari upaya memenuhi ketentuan transparansi dalam EU AI Act.
OpenAI mengumumkan pendekatan tersebut pada 5 Oktober 2026. Teknologi yang digunakan bernama textGrain, yaitu sistem yang mengubah pola pemilihan kata oleh model sehingga menghasilkan sinyal yang dapat diperiksa oleh sistem pendeteksi.
Watermark tersebut tidak berupa simbol atau tanda yang terlihat pembaca. OpenAI menjelaskan bahwa sistem bekerja melalui pola statistik dalam pemilihan kata ketika model menghasilkan teks.
OpenAI mengatakan penerapan watermark tersebut berkaitan dengan kewajiban transparansi konten AI dalam EU AI Act.
Namun, teknologi ini bukan solusi yang sempurna. OpenAI sendiri mengakui bahwa perubahan besar terhadap teks, termasuk penulisan ulang dan penerjemahan, dapat memengaruhi kemampuan pendeteksian.
Pandangan mengenai dampak watermark terhadap kualitas tulisan juga datang dari akademisi yang terlibat dalam penyusunan aturan AI Eropa. Dino Pedreschi, profesor ilmu komputer di University of Pisa dan salah satu ketua bersama kelompok penyusun kode praktik transparansi AI Uni Eropa, mengatakan kepada Euractiv bahwa watermark tidak menjadi persoalan besar bagi teks yang cukup panjang.
Pedreschi juga mengakui bahwa watermark dapat dilepas. Namun, ia menilai watermark lebih sulit diakali dibandingkan sekadar metadata. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai penerapan aturan watermarking teks AI di Uni Eropa yang dimuat Euractiv.
Pandangan serupa disampaikan Kalina Bontcheva, profesor Text Analytics di University of Sheffield dan salah satu ketua bersama penyusunan kode transparansi tersebut. Menurut Bontcheva, dampak terhadap kualitas terutama menjadi persoalan pada teks yang sangat pendek.
Ketentuan Uni Eropa sendiri menetapkan ambang tertentu. Euractiv melaporkan watermarking tersebut berlaku untuk teks yang lebih panjang dari 200 token, atau sekitar 150 kata, sehingga teks sangat pendek tidak diperlakukan dengan cara yang sama.
OpenAI juga tidak mengatakan watermark dapat membuktikan siapa penulis sebuah teks. Sinyal tersebut lebih berkaitan dengan asal atau keterlibatan model dalam menghasilkan konten.
Penerapan textGrain menunjukkan bahwa regulasi AI mulai masuk ke aspek teknis keluaran model. Pemerintah tidak hanya mengatur bagaimana perusahaan mengembangkan AI, tetapi juga mendorong mekanisme agar konten buatan mesin dapat dikenali.
Tantangannya adalah mempertahankan kegunaan tanda tersebut ketika teks diedit, diterjemahkan atau digabungkan dengan tulisan manusia. Di titik itu, watermark AI bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat membangun kepercayaan terhadap informasi digital.
