CEO Google DeepMind Prediksi AGI Hadir Sebelum 2030, Usulkan Badan Pengawas AI Global

Perkembangan AI dinilai telah memasuki fase krusial. Google DeepMind memperkirakan AGI akan hadir dalam beberapa tahun ke depan dan mengajak pemerintah serta industri membangun standar keselamatan global sebelum terlambat.
by Juli 15, 2026
1 min read
Badan Pengawas AI Global |
Demis Hassabis , salah satu pendiri dan CEO Google DeepMind, menyerukan agar AS membentuk badan pengawas AI baru yang memiliki wewenang untuk memantau model-model tercanggih di dunia — dan mengoordinasikan perlambatan di seluruh industri jika bahaya meningkat.

CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, memperkirakan dunia hanya memiliki waktu beberapa tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi Artificial General Intelligence (AGI), yaitu kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan kognitif setara atau bahkan melampaui manusia. Pandangan tersebut ia sampaikan melalui manifesto berjudul A Framework for Frontier AI and the Dawning of a New Age yang dipublikasikan Google DeepMind pada 14 Juli 2026.

Dalam manifesto itu, Hassabis menyebut perkembangan AI telah memasuki fase yang sangat menentukan. Menurutnya, kemajuan teknologi membuka peluang besar bagi umat manusia, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab yang tidak kalah besar.

“Kita sedang memasuki era baru ketika AI paling canggih dapat mengubah hampir setiap aspek kehidupan masyarakat. Peluang yang terbuka sangat besar, tetapi tanggung jawab kita untuk memastikan sistem ini dikembangkan secara aman dan bertanggung jawab juga sama besarnya,” tulis Demis Hassabis dalam manifesto A Framework for Frontier AI and the Dawning of a New Age yang diterbitkan Google DeepMind, Selasa (14/72026).

Hassabis memperkirakan AGI berpotensi hadir sekitar 2029 hingga 2030 apabila laju perkembangan teknologi terus berlangsung seperti saat ini. Menurutnya, AI berpotensi mempercepat penemuan obat-obatan baru, membantu pengembangan material dan energi bersih, hingga meningkatkan produktivitas ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, ia menilai AI dapat membawa dunia menuju era post-scarcity, ketika teknologi mampu memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia secara jauh lebih efisien.

Di balik optimisme tersebut, Hassabis mengingatkan bahwa kemampuan AI yang semakin tinggi juga membawa risiko besar apabila tidak diimbangi tata kelola yang memadai. Ia menyoroti potensi penyalahgunaan AI untuk serangan siber, pengembangan senjata biologis, hingga ancaman terhadap keamanan nasional.

“Waktu yang kita miliki untuk membangun tata kelola yang efektif sebelum AGI benar-benar hadir semakin sempit,” tulis Hassabis. Ia menilai regulasi dan standar keselamatan AI perlu disiapkan sejak sekarang agar perkembangan teknologi tidak melampaui kemampuan masyarakat dalam mengelola risikonya.

Sebagai solusi, Hassabis mengusulkan pembentukan badan standar AI global yang dipimpin Amerika Serikat dengan struktur yang terinspirasi dari Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). Lembaga independen tersebut diusulkan bertugas menguji model-model frontier AI sebelum dirilis ke publik, menetapkan standar keselamatan, serta memiliki kewenangan merekomendasikan penundaan peluncuran apabila ditemukan risiko yang dinilai membahayakan masyarakat.

Usulan tersebut mendapat perhatian luas di kalangan industri teknologi. Berdasarkan laporan Axios dan Financial Times, manifesto Hassabis menjadi salah satu dokumen paling komprehensif mengenai tata kelola AI yang pernah diterbitkan oleh pemimpin perusahaan AI besar. CEO Microsoft Satya Nadella turut menyambut positif gagasan tersebut dan menilai mekanisme evaluasi independen menjadi pengingat penting bahwa inovasi AI harus dibarengi tanggung jawab yang setara.

Manifesto ini hadir ketika berbagai negara mulai memperketat pengawasan terhadap frontier AI. Pemerintah di sejumlah negara kini mendorong penerapan pengujian keamanan, evaluasi risiko, hingga pembatasan akses terhadap model AI paling canggih sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyalahgunaan teknologi.

Jika usulan tersebut terwujud, pembentukan badan pengawas internasional akan menjadi salah satu perubahan terbesar dalam tata kelola AI global sejak kemunculan AI generatif. Bagi Hassabis, beberapa tahun ke depan akan menjadi periode yang menentukan apakah AGI benar-benar dapat menghadirkan manfaat besar bagi umat manusia atau justru memunculkan risiko yang sulit dikendalikan.

Go toTop

Baca Juga