Hidupkan Budaya Dayak Lawangan, Tirta Nopa Tarani Kembangkan Seni Tari Kontemporer

Pendekatan tari kontemporer sebagai cara mengenalkan tradisi kepada generasi muda, sekaligus membuka rekrutmen talenta baru di daerah, mulai dari kelas balet untuk anak prasekolah hingga eksplorasi tari tradisional dan kontemporer bagi remaja.
by Maret 14, 2026
1 min read
Penampilan Tirta Nopa Tarani saat mempersembahkan tari Sangkal Bolum yang menggambarkan perjuangan manusia menghadapi tantangan hidup dengan fokus, berani, sabar, dan refleksi. (Sumber: Dok. Pribadi)

Minimnya sorotan terhadap budaya Dayak Lawangan di Kabupaten Barito Timur (Bartim) mendorong pegiat seni muda, Tirta Nopa Tarani, untuk kembali ke daerah asalnya dan bergerak melestarikan warisan budaya leluhur.

Lulusan Sarjana Seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memilih meninggalkan zona nyaman di luar daerah demi menghidupkan kembali ruang kreatif seni di tanah kelahirannya.

Tirta menilai ada ironi ketika ruang berkesenian di kota-kota besar justru berkembang pesat, sementara pelestarian budaya di daerah sendiri terasa stagnan.

“Saya merasa tertarik mengembangkan tari kontemporer di daerah sendiri. Berangkat dari pengalaman di Yogyakarta dan daerah lain, saya ingin mengeksplorasi seni tari kita,” ujar Tirta kepada redaksi Perspektif Space, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, memperkenalkan identitas budaya tidak harus selalu dilakukan secara kaku. Ia memilih pendekatan tari kontemporer sebagai jembatan untuk memperkenalkan budaya Dayak Lawangan kepada generasi muda.

Dengan cara ini, Tirta berharap anak-anak muda di daerahnya kembali memiliki keterikatan dengan budaya yang mulai memudar.

“Ada banyak cara mengenalkan tradisi. Dan ini adalah salah satu bentuk kita memperjuangkan budaya Lawangan,” tegasnya.

Saat ini Tirta mulai bergerak di wilayah Kecamatan Dusun Tengah, Barito Timur. Ia membuka rekrutmen talenta baru dari berbagai kelompok usia.

Untuk anak usia prasekolah, ia membuka kelas balet sebagai fondasi awal pengenalan gerak tari. Sementara bagi remaja, pembinaan diarahkan pada eksplorasi tari tradisional dan tari kontemporer.

Rencananya, para talenta binaan tersebut akan tampil dalam sebuah pagelaran seni yang dijadwalkan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 mendatang.

Tirta mengakui persoalan pendanaan dan sponsor menjadi tantangan dalam mengembangkan kegiatan seni tersebut. Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin berhenti hanya karena keterbatasan biaya.

“Mustahil tanpa dana yang memadai, tapi bukan berarti kita harus stagnan menunggu dana datang. Ya berjuanglah. Saya yakin masih ada orang-orang yang peduli pada kesenian Dayak, khususnya Lawangan,” pungkasnya.

Melalui gerakan seni yang ia bangun, Tirta ingin budaya Dayak Lawangan tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga