PT Sungai Rangit dan PT UAI Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla di Sukamara

Merupakan bagian dari rangkaian Global Volunteer Week (GVW) 2026 dan menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat upaya pencegahan maupun penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara terpadu.
by Juni 8, 2026
1 min read
Kesiapsiagaan Karhutla di Sukamara
Jajaran manajemen PT Sungai Rangit dan PT Usaha Agro Indonesia (UAI) berfoto bersama dengan unsur pemerintah, TNI, Polri, Manggala Agni, dan para pemangku kepentingan pada kegiatan Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sukamara, Kamis (4/6/2026). AAN/ PERSPEKTIF SPACE.

Upaya memperkuat Kesiapsiagaan Karhutla di Sukamara terus dilakukan melalui kolaborasi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan PT Sungai Rangit bersama PT Usaha Agro Indonesia (UAI) melalui Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026 yang dirangkaikan dengan simulasi pemadaman, penanaman pohon, serta penyerahan bantuan sarana bagi desa binaan.

Kegiatan yang digelar Kamis (4/6/2026) tersebut merupakan bagian dari rangkaian Global Volunteer Week (GVW) 2026 dan menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat upaya pencegahan maupun penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara terpadu.

Apel siaga melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Lingkungan Hidup, kepala desa binaan, serta jajaran manajemen perusahaan. Selain itu, kegiatan juga diisi simulasi pemadaman kebakaran, penanaman pohon, dan penyerahan bantuan sarana penanganan karhutla kepada Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).

General Manager PT Sungai Rangit, Tulus Sihombing, mengatakan ancaman kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap kelestarian lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

“Risiko Karhutla berdampak pada ekosistem dan ekonomi petani maupun masyarakat. Karena itu kami menyiapkan berbagai langkah pencegahan dan deteksi dini agar potensi kebakaran dapat diminimalkan,” ujarnya.

Menurut Tulus, pelaksanaan GVW 2026 difokuskan pada empat agenda utama, yakni peningkatan kapasitas anggota Kelompok Tani Peduli Api, penguatan sinergi dengan berbagai instansi, patroli bersama di kawasan rawan kebakaran sebagai langkah deteksi dini, serta penyaluran bantuan sarana dan prasarana kepada lima kelompok masyarakat peduli api di desa binaan.

Sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, perusahaan juga menggelar simulasi penanganan kebakaran yang melibatkan tim pemadam internal.

“Dari simulasi tadi jelas terlihat tim pemadam kebakaran karhutla yang dimiliki PT Sungai Rangit bisa diandalkan ketika nanti terjadi bencana karhutla,” kata Tulus.

Ia menilai meningkatnya potensi kebakaran akibat puncak musim kemarau dan anomali iklim menuntut seluruh pihak untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

“Sinergi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mengantisipasi bencana ini,” tegasnya.

Selain memperkuat kapasitas personel, perusahaan juga melaksanakan penanaman pohon sebagai bagian dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung rehabilitasi kawasan.

Pada kesempatan tersebut, PT Sungai Rangit menyerahkan bantuan sarana dan prasarana penanganan karhutla senilai Rp10 juta kepada lima desa binaan yang tergabung dalam Kelompok Tani Peduli Api. Bantuan tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan masyarakat dalam melakukan penanganan dini apabila terjadi kebakaran.

Tulus juga menginstruksikan seluruh jajaran perusahaan untuk mengedepankan langkah-langkah pencegahan melalui patroli rutin, edukasi kepada masyarakat, serta pengelolaan tata air di lahan gambut. Sementara personel dan peralatan pemadam diminta selalu dalam kondisi siap operasional dengan standar quick response agar titik api dapat segera dikendalikan sebelum meluas.

Menurutnya, keberhasilan mencegah kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional.

“Penanggulangan Karhutla bukan hanya tanggung jawab GM atau manajer, tetapi menjadi tanggung jawab moral kita bersama. Mari rapatkan barisan untuk mewujudkan perusahaan yang bebas dari asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” ujar Tulus. (an/yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Go toTop

Baca Juga