Festival Sastra dan Sarasehan Budaya resmi digelar di Aula Universitas Palangka Raya, Rabu (15/7/2026). Kegiatan yang mempertemukan sastrawan, akademisi, budayawan, mahasiswa, dan pegiat literasi tersebut diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
Festival dibuka oleh Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Dalam sambutannya, ia menilai penyelenggaraan festival dan sarasehan budaya memiliki arti penting karena tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya sastra, tetapi juga wadah membangun dialog lintas generasi serta memperkuat identitas budaya bangsa.
“Sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang tempat manusia menyimpan ingatan, merawat nilai, dan membangun peradaban,” ujarnya.
Menurut Zaini, kemajuan teknologi dan transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai budaya agar karakter dan kebijaksanaan tetap terjaga.
“Melalui sastra kita belajar memahami kehidupan dengan lebih arif, sedangkan melalui budaya kita mengenali akar yang menguatkan langkah menuju masa depan,” katanya.
Ia mengatakan, Kota Palangka Raya yang tumbuh dalam keberagaman suku, agama, bahasa, dan tradisi memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis. Karena itu, berbagai kegiatan kebudayaan dinilai perlu terus didukung sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Selain menjadi ruang apresiasi karya, festival tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan dan kolaborasi yang dapat memperkuat ekosistem sastra dan kebudayaan, sekaligus mendorong peningkatan literasi dan kreativitas masyarakat.
“Saya berharap forum ini mampu melahirkan rekomendasi, kolaborasi, dan inovasi yang memperkuat ekosistem sastra dan kebudayaan Indonesia,” ucapnya.
Zaini menambahkan, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari keberhasilan pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kualitas karakter masyarakat serta kemampuan menjaga identitas budaya juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
“Pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur fisik, tetapi juga dari kualitas karakter, kecerdasan budaya, serta kemampuan masyarakat dalam merawat identitasnya di tengah perubahan zaman,” tegasnya.
Festival Sastra dan Sarasehan Budaya diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas sastra, pelaku seni, dan masyarakat dalam mengembangkan literasi serta melestarikan kekayaan budaya, khususnya di Kalimantan Tengah. (red/yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
