Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kalimantan Tengah (IMM Kalteng), Arif Bayu Basyariman, menyatakan dukungan penuh terhadap program strategis Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) yang saat ini dipimpin oleh Drs. Mukhtarudin.
Dukungan tersebut mencakup program quick win penyiapan 500.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil serta percepatan pembentukan Balai BP3MI di Kalimantan Tengah, yang dinilai menjadi kebutuhan penting untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Bayu menilai program quick win Kementerian P2MI merupakan terobosan yang tepat untuk menjawab kebutuhan generasi muda akan jalur karier yang lebih kompetitif. Di tengah perubahan pasar tenaga kerja global, anak muda Indonesia membutuhkan akses pelatihan, sertifikasi, dan peluang kerja yang terarah.
“Target 500 ribu PMI terampil adalah upaya serius membuka ruang kerja global bagi anak bangsa. Kami IMM Kalteng mendukung penuh karena program ini sejalan dengan misi pemberdayaan kader muda menuju kapasitas dan kemandirian yang lebih baik,” ujar Bayu di Palangka Raya, Sabtu (29/11/25).
Menurutnya, mahasiswa di Kalimantan Tengah memiliki potensi besar untuk masuk ke sektor profesional luar negeri. Namun, kesiapan itu harus diperkuat melalui kemampuan bahasa asing, pemahaman kultur kerja global, serta pelatihan teknis berstandar internasional.
Bayu yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Palangka Raya melihat organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendorong persepsi baru tentang pentingnya kompetensi global. IMM, katanya, siap menjadi penggerak ekosistem pembelajaran dan penguatan kapasitas mahasiswa.
“IMM siap berkolaborasi dengan Kementerian P2MI, mulai dari penyebaran informasi, fasilitasi pelatihan, hingga penyusunan program yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja global,” tegasnya.
Bentuk kolaborasi yang dinilai realistis meliputi sosialisasi peluang PMI terampil di kampus, pelatihan soft skill dan hard skill, pemetaan minat mahasiswa, hingga keterlibatan relawan mahasiswa dalam edukasi publik. Upaya itu dianggap penting demi melahirkan SDM muda dari daerah yang siap berkompetisi secara global.
Di luar program pelatihan, Bayu juga menekankan urgensi percepatan pendirian Balai BP3MI Kalimantan Tengah. Ia melihat keberadaan balai tersebut tidak hanya soal pembukaan kantor, tetapi pembukaan akses besar bagi generasi muda daerah.
“Ini bukan sekadar membuka kantor baru, tetapi membuka akses masa depan bagi ribuan anak daerah,” ungkapnya.
Balai BP3MI dinilai akan mempercepat layanan informasi penempatan, pendampingan, pelatihan, hingga perlindungan calon pekerja migran. Keberadaannya juga membantu menekan praktik penempatan ilegal serta memperkuat pemerataan pembangunan SDM di Indonesia.
Bayu menutup pernyataannya dengan harapan agar pemerintah terus memperkuat ekosistem penyiapan PMI yang aman, profesional, dan berstandar internasional.
“Pekerja migran ke depan harus hadir bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia di kancah global,” tutupnya. (Ahaf/yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
