Palangka Raya diguyur hujan ringan pada Selasa (29/7/2026) sekitar pukul 17.33 WIB. Hujan yang turun menjelang petang itu terjadi di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di Kalimantan Tengah, saat pemerintah daerah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Fenomena tersebut sejalan dengan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau tidak berarti suatu wilayah akan terbebas dari hujan. Curah hujan pada periode kemarau umumnya lebih rendah dibandingkan musim hujan, yakni di bawah 50 milimeter per dasarian.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam siaran pers yang diterbitkan BMKG di Jakarta pada 4 Juli 2024, menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia memang memasuki puncak musim kemarau pada Juli dan Agustus. Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan masih terjadinya hujan di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan.
“Meski demikian bukan berarti dalam periode kemarau tidak ada hujan sama sekali, tetapi ada hujan meski kisaran di bawah 50 mm per dasariannya,” ujar Guswanto.
Ia menjelaskan, hujan yang masih terjadi dipengaruhi dinamika atmosfer skala regional hingga global. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial, serta suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah Indonesia masih mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Fenomena atmosfer inilah yang memicu terjadinya dinamika cuaca yang berakibat masih turunnya hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” katanya.
Meski hujan ringan masih berpeluang terjadi selama musim kemarau, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap menghemat penggunaan air sebagai cadangan saat puncak musim kemarau berlangsung. Di sisi lain, kewaspadaan terhadap potensi karhutla juga tetap perlu ditingkatkan karena hujan yang terjadi bersifat lokal dan tidak merata di seluruh wilayah. (yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
