Transformasi Haji, Wamen Dahnil Tekankan Pembangunan Ekosistem Ekonomi dan Peradaban

Transformasi besar dilakukan melalui tiga arah utama, yakni sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban.
by Desember 10, 2025
1 min read
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak saat menghadiri Dialog Perhajian dan Pembinaan ASN di Kantor Wilayah Kemenhaj RI Provinsi Bengkulu, Rabu (10/12/25). HUMAS KEMENHAJ/YOAN PRAMOGA

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan penyelenggaraan haji di era Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga simbol perubahan dan kebangsaan.

“Transformasi besar dilakukan melalui tiga arah utama, yakni sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban,” ujar Dahnil saat menghadiri Dialog Perhajian dan Pembinaan ASN di Kantor Wilayah Kemenhaj RI Provinsi Bengkulu, Rabu (10/12/25).

Pada aspek ritual, Dahnil mengatakan Kemenhaj membangun kultur meritokrasi dengan menjadikan kompetensi dan integritas sebagai syarat utama bagi seluruh sumber daya manusia penyelenggara haji.

Ia juga mengungkap masih adanya praktik rente dan asimetri informasi dalam layanan haji, termasuk potensi manipulasi rantai layanan dan perdagangan kuota.

“Presiden Prabowo memerintahkan agar seluruh praktik tersebut dibersihkan hingga ke akar-akarnya, meski menimbulkan resistensi dan fitnah,” tegasnya.

Menurut Dahnil, transformasi penyelenggaraan haji harus menjadi gerakan kolektif hingga tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Salah satu kebijakan strategis yang disampaikan adalah pemerataan masa tunggu haji, yang kini ditetapkan rata-rata nasional 26 tahun. Kebijakan ini merupakan koreksi atas ketimpangan masa tunggu antarwilayah, termasuk di Bengkulu yang sebelumnya berkisar antara 13 hingga 35 tahun.

Dahnil meminta jajaran Kanwil dan Kepala Kantor Kemenhaj memastikan masyarakat memahami kebijakan tersebut sebagai upaya pemerataan nasional.

Selain itu, Kemenhaj juga tengah menyiapkan penguatan ekosistem ekonomi haji, salah satunya melalui rencana transformasi Asrama Haji menjadi Hotel Haji dengan skema kolaborasi pemerintah dan swasta.

“Fasilitas tersebut ke depan tidak hanya melayani jemaah haji, tetapi juga umrah serta berbagai kegiatan keumatan lainnya,” jelasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan pembinaan, Dahnil menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan jemaah secara berkelanjutan melalui Direktorat Jenderal Bina Haji dan Umrah.

“Haji dan umrah harus menjadi simbol kebangsaan. Ini era kebangkitan haji Indonesia,” pungkasnya.

Dahnil mengajak seluruh pemangku kepentingan perhajian di Bengkulu untuk memperkuat integritas dan menghadirkan penyelenggaraan haji yang adil, transparan, dan memuliakan jemaah. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga