Menteri Mukhtarudin Terima Delegasi Malaysian Chinese Association Perkuat Sektor Pekerja Migran

Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama bilateral Indonesia–Malaysia dalam penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Menteri Mukhtarudin Terima Delegasi Malaysian Chinese Association
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, bersama jajaran KemenP2MI dan delegasi Malaysian Chinese Association berfoto bersama usai pertemuan di Kantor KemenP2MI, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026).

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima kunjungan kehormatan delegasi Malaysian Chinese Association di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026).

Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama bilateral Indonesia–Malaysia dalam penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), sekaligus mendorong transformasi tenaga kerja menuju sektor profesional.

Delegasi MCA dipimpin oleh Lawrence Low, bersama sejumlah pimpinan dan perwakilan pelaku usaha lintas sektor.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri P2MI Mukhtarudin menegaskan bahwa transformasi kelembagaan dari badan menjadi kementerian memberikan kewenangan lebih luas dalam mengelola penempatan dan pelindungan PMI secara menyeluruh.

“Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyiapan 500.000 tenaga kerja berkualitas. Malaysia masih menjadi negara penempatan terbesar,” ujarnya.

Ia menyebut, hingga April 2026 tercatat sebanyak 22.915 penempatan PMI ke Malaysia, dengan sektor perkebunan masih mendominasi. Namun ke depan, pemerintah akan mendorong diversifikasi ke sektor formal dan profesional.

Beberapa sektor prioritas yang dibahas meliputi kesehatan, perawat (nurse) dan caregiver, industri strategis, pengelasan, serta hospitality.

Dalam audiensi tersebut, kedua pihak juga menjajaki sejumlah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola penempatan PMI. Salah satunya melalui pengembangan sistem link and match antara kebutuhan industri di Malaysia dengan pelatihan tenaga kerja di Indonesia.

MCA disebut akan berperan dalam mengidentifikasi kebutuhan keterampilan pasar kerja, sehingga program pelatihan bagi calon PMI menjadi lebih tepat sasaran.

Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada penguatan pendidikan vokasi, termasuk pemanfaatan institusi pendidikan yang dimiliki MCA untuk mencetak tenaga kerja profesional.

Di sisi lain, skema penempatan akan diperkuat melalui jalur resmi seperti private to private (P to P) dan pengembangan skema government to private (G to P) guna memastikan proses rekrutmen yang lebih transparan dan beretika.

Untuk meningkatkan pelindungan, kedua pihak juga sepakat membentuk gugus tugas bersama guna menangani sengketa antara pekerja dan pemberi kerja secara cepat dan adil.

Tak hanya saat bekerja, kolaborasi ini juga mencakup pemberdayaan purna PMI, termasuk dukungan pemasaran produk UMKM melalui jaringan ekonomi MCA.

Menteri Mukhtarudin menyambut baik inisiatif kerja sama ini dan berharap MCA dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat pelindungan PMI di Malaysia.

“Malaysia adalah sahabat dekat Indonesia. Dengan dukungan MCA, kami optimistis pelindungan pekerja migran akan semakin kuat, termasuk dalam pemenuhan hak dasar seperti gaji, asuransi, dan tempat tinggal layak,” ujarnya.

Sementara itu, Lawrence Low menyampaikan apresiasi atas sambutan pemerintah Indonesia dan menegaskan komitmen MCA untuk memperluas kolaborasi, termasuk di sektor pendidikan dan tenaga medis.

“Kami ingin pekerja migran Indonesia tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi tenaga profesional yang memiliki kompetensi tinggi,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, Menteri P2MI Mukhtarudin dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Malaysia pada Mei 2026 untuk memperkuat implementasi kerja sama, termasuk pengembangan pusat pelatihan dan sistem pelindungan PMI yang lebih komprehensif. (yn)

*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga