Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadaman Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau Juli 2026 melalui operasi darat dan udara. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan titik api sekaligus mencegah kebakaran meluas.
Berdasarkan data Posko Krisis Karhutla Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Provinsi Kalimantan Tengah, cuaca panas disertai minimnya curah hujan menyebabkan kondisi lahan semakin kering sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan operasi udara menjadi bagian dari strategi terpadu yang mendukung kerja tim darat, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.
“Operasi water bombing sangat membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau. Sementara patroli udara berperan penting dalam mendeteksi titik api lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” ujar Ahmad Toyib dalam keterangan resmi BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (17/7/2026).
Selain mengoptimalkan operasi pemadaman, BPB-PK juga terus memperkuat langkah pencegahan melalui patroli rutin, pemantauan kawasan rawan kebakaran, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan secepat mungkin. Toyib menilai pengendalian karhutla hanya dapat berhasil melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Pengendalian karhutla menjadi tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat, kami optimistis risiko meluasnya kebakaran serta dampak kabut asap dapat ditekan selama musim kemarau tahun ini,” katanya.
BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah berharap sinergi lintas sektor tersebut mampu menekan potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan, sehingga kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta aktivitas ekonomi tetap terjaga sepanjang musim kemarau. (red/yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
