Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus meningkat memasuki puncak musim kemarau. Hingga 19 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 2.844 titik panas (hotspot) dan 563 kejadian karhutla di berbagai wilayah.
Berdasarkan data Posko Krisis Karhutla Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kalimantan Tengah yang dirilis Senin (20/7/2026), laporan dari pemerintah kabupaten dan kota menunjukkan luas lahan yang terbakar mencapai 852,58 hektare.
Sementara itu, hasil verifikasi menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS yang dipadukan dengan data sebaran hotspot dan pemeriksaan lapangan oleh Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat total luasan kebakaran mencapai 3.069,52 hektare.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan peningkatan kejadian karhutla dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin kering di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. Untuk mempercepat penanganan, BPB-PK mengerahkan 94 personel gabungan serta mengoperasikan empat unit helikopter water bombing.
“Sepanjang periode Januari hingga pertengahan Juli ini, konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 401 titik, disusul Lamandau 374 titik, Kapuas 365 titik, dan Katingan 356 titik,” kata Ahmad Toyib saat dikonfirmasi di Palangka Raya, Senin (20/7/2026).
Menurut Toyib, kondisi vegetasi yang mulai mengering membuat api lebih cepat merambat sehingga seluruh satuan tugas di tingkat provinsi maupun kabupaten tetap disiagakan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.
“Kami melihat pergerakan api sangat cepat akibat vegetasi lahan yang mulai mengering. Seluruh satgas, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, diinstruksikan untuk mempertahankan status siaga penuh demi mengamankan visi Kalteng Bebas Kabut Asap 2026,” ujarnya.
Data BPB-PK juga menunjukkan Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan frekuensi penanganan kebakaran tertinggi, yakni 199 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 96 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 188 hektare.
Sementara berdasarkan luas lahan yang terbakar, Kabupaten Sukamara menjadi wilayah terdampak terbesar dengan 138,2 hektare, dari 237 titik panas yang terpantau selama periode tersebut.
Meski jumlah kejadian karhutla meningkat, BPB-PK memastikan dampak terhadap kesehatan masyarakat masih terkendali. Berdasarkan laporan posko kesehatan, belum ditemukan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun diare yang berkaitan langsung dengan paparan asap. Aktivitas belajar mengajar di seluruh wilayah Kalimantan Tengah juga masih berlangsung normal.
Hingga kini, belum ada laporan resmi dari aparat penegak hukum terkait penindakan terhadap pelaku pembakaran lahan, baik perorangan maupun korporasi. Sementara itu, patroli terpadu dan sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar terus digencarkan untuk menekan munculnya titik api baru.
Toyib mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin sebelum api meluas.
“Pengendalian karhutla menjadi tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat, kami optimistis risiko meluasnya kebakaran serta dampak kabut asap dapat ditekan selama musim kemarau tahun ini,” tegas Toyib.
BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat agar potensi karhutla dapat ditekan, sekaligus menjaga kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan selama musim kemarau. (red/yn)
*Editor : Yandi Novia
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
