Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025 menjadi momentum refleksi bagi para pendidik di berbagai daerah.
Hal ini juga dirasakan Guru Agama Madrasah Al-Barokah Ujung Berung, Jawa Barat, Halimah Nurlatifah, yang menyebut profesi guru adalah amanah besar untuk menjaga nilai dan karakter generasi muda.
Menurut Nurlatifah, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membimbing, menenangkan, dan menjadi tempat siswa menemukan arah di tengah tantangan zaman.
“Bagi saya, Hari Guru Nasional menjadi pengingat bahwa tugas saya bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan rasa hormat,” ujarnya kepada redaksi Perspektif Space, Rabu (26/11/2025).
Sebagai guru agama, Nurlatifah merasakan peran yang lebih mendalam. Ia menyebut dirinya seperti diberi amanah untuk menjaga ruang kecil dalam hati siswa, baik ruang tempat mereka belajar mengenal diri, memahami benar dan salah, serta mempraktikkan kebaikan dalam hubungan sosial.
“Setiap doa, nasihat, dan perubahan kecil pada diri siswa adalah hal yang sangat berarti,” ucap pendidik muda kelahiran Subang, 16 Desember 2002 ini.
Namun, ia menilai tantangan pembentukan karakter semakin besar di era digital. Anak-anak kini kerap lebih cepat terpapar konten dunia maya ketimbang mendapatkan arahan dari guru atau orang tua.
“Terutama penggunaan handphone tanpa pengawasan orang tua. Tantangan paling penting saat ini adalah menjaga agar nilai-nilai kebaikan tetap hidup di dalam diri mereka, meski dunia digital terus berubah,” jelas Nurlatifah yang juga aktif dalam kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat secara Nasional melalui Program Eksplorasi Budaya Nusantara bersama Yayasan Bhakti Berkarya untuk Bangsa.
Nurlatifah menilai guru pun perlu terus belajar agar mampu mendampingi siswa dengan lebih relevan.
“Membentuk karakter bukan cuma soal mengajar, tapi juga tumbuh bersama mereka,” katanya.
Ia mengakui adanya kesenjangan antara nilai yang diajarkan di sekolah dengan realita yang dihadapi siswa di lingkungan sosial maupun keluarga.
“Tantangannya adalah konsistensi. Mereka belajar satu hal di kelas, tapi melihat hal berbeda di luar,” ujarnya.
Untuk menjembatani itu, Nurlatifah mengandalkan keteladanan, komunikasi terbuka, dan kedekatan emosional.
Ia berupaya menciptakan ruang aman agar siswa bisa bercerita serta belajar memilah nilai mana yang perlu dipegang teguh.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peran signifikan dalam mengurangi praktik perundungan (bullying) di sekolah. Bukan hanya lewat teori, tetapi juga melalui pembiasaan akhlak sehari-hari.
Ia merinci empat peran penting pendidikan agama dalam pencegahan bullying:
- Mengajarkan setiap manusia adalah ciptaan Allah yang harus dihormati, pemahaman ini membuat siswa lebih menjaga lisan dan sikap.
- Menanamkan ketakwaan, dengan siswa belajar bahwa Allah selalu melihat, sehingga menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain meski tanpa pengawasan.
- Menumbuhkan akhlak mulia sebagai kewajiban, baik sikap sabar, memaafkan, menolong, dan menghargai menjadi wujud ibadah.
- Mendorong budaya saling menasihati dalam kebaikan agar siswa terbiasa mengingatkan temannya ketika mulai bersikap kasar atau merendahkan.
“Pendidikan agama menjadi pondasi utama untuk meminimalisir terjadinya bullying, baik di sekolah maupun lingkungan sekitar,” tegasnya.
Nurlatifah menilai penguatan karakter hanya dapat tercapai jika sekolah memberi ruang bagi pembiasaan keagamaan, menghadirkan pelatihan berkelanjutan bagi guru, menyediakan fasilitas ibadah memadai, dan menyusun kebijakan yang berpihak pada pembinaan akhlak.
“Bukan hanya di atas kertas, tapi benar-benar terasa dalam praktik,” katanya.
Menutup pernyataannya, ia menyampaikan harapan untuk masa depan pendidikan karakter di Indonesia.
“Saya berharap nilai-nilai akhlak dan agama menjadi fondasi yang hidup, bukan sekadar materi pelajaran. Sekolah harus menjadi tempat di mana siswa tidak hanya pintar akademik, tapi juga berakhlak mulia, empati, dan bertakwa,” ujarnya.
Ia meyakini bahwa lingkungan sekolah yang mendukung, guru yang menjadi teladan, dan kebijakan yang konsisten akan membantu generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara moral dan siap menghadapi tantangan zaman. (Ahaf)
*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.
