Momentum HGN 2025, Wakepsek SD Islam Hasanka Fauzi Soroti Tantangan Moral Generasi Muda di Era Digital

Derasnya informasi dari dunia digital, sering kali membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Guru Agama SD Islam Hasanka Kota Palangka Raya, Ahmad Fauzi, S.Pd.

Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025 menjadi momen refleksi bagi para pendidik di seluruh Indonesia.

Hal ini turut dirasakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Guru Agama SD Islam Hasanka Kota Palangka Raya, Ahmad Fauzi, yang menilai peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) kini semakin strategis di tengah pesatnya arus digitalisasi.

“Bagi saya, Hari Guru Nasional adalah momentum menegaskan kembali bahwa guru PAI adalah penjaga moral generasi digital, membentuk siswa yang bukan hanya cerdas, tetapi berkarakter kuat di tengah derasnya perubahan zaman,” ujarnya kepada redaksi Perspektif Space, Rabu (26/11/2025).

Ahmad Fauzi menyebut tantangan terbesar dalam pembentukan karakter saat ini adalah derasnya informasi dari dunia digital yang sering membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur.

“Guru harus hadir sebagai kompas nilai yang menuntun siswa agar tetap berakhlak dalam dunia yang serba instan,” tegasnya.

Ia menilai bimbingan moral perlu diberikan secara konsisten agar peserta didik tetap memiliki pegangan nilai di tengah perkembangan teknologi yang bergerak cepat.

Lulusan sarjana pendidikan agama Islam di Universitas Islam Negeri Palangka Raya ini juga menekankan pentingnya komunikasi yang selaras antara sekolah dan orang tua.

Menurutnya, kesenjangan antara nilai yang ditanamkan guru di sekolah dengan kondisi lingkungan luar dapat diminimalisir melalui sinergi yang baik.

“Saya memastikan nilai-nilai akhlak yang ditanamkan di sekolah terus bergema hingga rumah, sehingga pembentukan karakter berjalan utuh,” jelas pria kelahiran Sungai Pitung, 30 April 2001 itu.

Lebih lanjut, Ahmad Fauzi menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peran fundamental dalam mencegah tindakan perundungan (bullying).

“Pendidikan agama menjadi fondasi anti-bullying melalui penanaman empati, adab, dan rasa hormat,” ucapnya.

Ia juga menyebut pentingnya penguatan literasi digital, sarana pembiasaan religius, serta dukungan kebijakan yang benar-benar berpihak pada pembinaan akhlak.

“Pembinaan akhlak tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus terwujud dalam tindakan,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Ahmad Fauzi menyampaikan harapan agar sistem pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi yang unggul secara teknologi namun tetap kokoh secara moral.

“Saya berharap sekolah-sekolah Indonesia melahirkan generasi yang melek teknologi tetapi tetap berjiwa mulia, generasi abad 21 yang beriman, beradab, berani, dan siap memimpin masa depan dengan integritas,” tutupnya.

Momentum Hari Guru Nasional 2025 kembali menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter adalah fondasi penting dalam mempersiapkan masa depan bangsa. (Ahaf)

*Editor : Yoan Pramoga
Seluruh konten situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International, kecuali ada keterangan berbeda.

Baca Juga